Surabaya (beritajatim.com) – Dawet Jembut, kudapan khas Jawa Tengah ini memang terdengar negativ namun rasa dari minuman ini menjadikan konotasi negative menjadi positive.
Minuman yang populer di Purworejo, Jawa Tengah ini bisa dinikmati oleh masyarakat Suranaya di gelaran mFestival Kuliner Pasar Guyub yang diadakan di Grand City Mall Surabaya, hingga 9 Juni 2024.
Pemilik tenant Dawet Jembut, Dea Ratupermau menyebut, nama tersebut adalah singkatan dari asal minuman tersebut.
Dalam bahasa Jawa, jembut artinya rambut kemaluan. Dinamai tersebut karena lokasi populernya minuman es dawet itu dari Jembatan Butuh (Jembut) di Purworejo, Jawa Tengah.
“Itu singkatan sebenarnya, asalnya dari Purworejo dan memang tampilannya hitam,” ucapnya, Jumat (7/5/2024).
Namanya yang nyentrik membuat minuman dawet hitam ini dilirik banyak pengunjung mall. Mereka pun menyruput kesegaran dari dawet populer Jawa Tengah.
Proses pembuatan dari es dawet hitam jembut ini disebut gabungan dari tepung sagu aren dan tepung beras direbus sambil diaduk hingga kental untuk dicetak menjadi dawet.
Kami kasih pewarna makanan seperti arang atau charcoal,” ucapnya.
Racikan dawet diberi susu pengganti santan, gula dan es. Harga satu porsi es dawet jembut di event festival kuliner ini Rp 30 ribu.
Dea mengaku selama enam bulan ini banyak mengikuti event-event kuliner seperti di Yogyakarta, event di Borobudur, Prambanan dan beberapa kawasan Jawa Tengah lainnya.
Ia berharap dapat terus mempopulerkan es dawet hitam jembut ini ke masyarakat luas. Tidak hanya kawasan Magelang atau Jawa Tengah tetapi juga di Jawa Timur.
Menariknya, pengunjung festival di Surabaya ini dinilai banyak yang penasaran terutama saat membaca nama dari dagangan tersebut.(way/ted)






