Surabaya (beritajatim.com) – Berawal dari tukang las bangunan, Harris Kistri, warga asli Surabaya, kini sukses mengembangkan usaha kuliner Bakmi Ayam Kampung Damai hingga memiliki dua outlet di kawasan Rungkut dan sekitar Taman Bungkul, Surabaya. Perjalanan bisnisnya dimulai dari kegagalan bekerja di luar negeri yang justru membawanya menemukan inspirasi usaha makanan.
Semula, Harris berencana menjadi tukang las di luar negeri. Namun rencana tersebut tak berjalan mulus. Saat berada di Singapura, ia justru tertarik pada dunia kuliner setelah mencicipi Nasi Hainan dan bakmi di sebuah kedai yang bersebelahan.
Dari situlah ide bisnisnya muncul. Ia terinspirasi mengadaptasi konsep bakmi ala Singapura, namun dengan sentuhan berbeda saat dibawa ke Surabaya.
“Waktu di Singapore aku nemu bakmie seperti bakmie karet akhirnya saya aplikasikan disini dengan inapirasi seperti hainan yang ayamnya digantung-gantung gitu,” kenang Haris, Rabu (4/3/2026).
Sepulang ke Surabaya, ia mulai merintis usaha dengan ciri khas utama menggunakan ayam kampung, bukan ayam biasa seperti yang umum dijumpai di Singapura. Menurutnya, ayam kampung memiliki rasa lebih gurih dan tekstur lebih padat sehingga memberi pengalaman berbeda bagi pelanggan.
Tak hanya dari sisi topping, jenis mie yang digunakan juga dibuat khusus. Ia menghadirkan dua varian utama, yakni bakmi karet ayam kampung serta bakmi yammin dengan pilihan rasa manis dan asin.
“Memang waktu saya di Singapura makannya mie karet jadi kenyal gitu. Jadi saya pesan khusus di pabrik mie secara custom seperti yang saya minta tapi tetap dengan kontrol sesuai yang kami butuhkan,” jelasnya.
Menariknya, seluruh menu di kedainya diolah sendiri tanpa mendatangkan atau berkolaborasi dengan chef luar. Haris memilih menjaga konsistensi rasa dengan turun langsung dalam proses produksi.
Selain bakmi, ia juga menawarkan aneka camilan khas kedai peranakan seperti gyoza, siomay, kembang tahu, hingga gohyong yang kini tengah populer. Konsepnya terinspirasi dari kopitiam, namun dikemas lebih sederhana dan membumi.
“Gohiong, Gyoza dan segala macamnya ini sebenarnya awalnya tidak ada ke arah sana untuk dijual. Tapi saya pikir masa nggak ada pendampingnya. Nah terus terpikirlah konsepku seperti Kopitiam, tapi kuturunkan kelasnya. Jadi konsep Kopitiam tapi kujual di pinggir jalan gitu. Makanya aku pakai side dish kayak gitu-gitu,” imbuhnya.
Dari sisi harga, Bakmi Ayam Kampung Damai menyasar semua kalangan. Dengan harga mulai Rp20 ribu, pelanggan sudah bisa mencicipi beragam varian bakmi ayam kampung khas racikan Haris. Kini, dua outletnya di Rungkut dan kawasan Taman Bungkul menjadi titik favorit penikmat kuliner yang mencari bakmi kenyal dengan cita rasa gurih khas ayam kampung di Surabaya. [way/beq]






