Bondowoso (beritajatim.com) – Kabut pagi di Dusun Blawan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen turun seperti tirai perlahan. Dari warung kecil milik Nur Azizah, suara piring beradu terdengar lirih, seolah mengetuk ritme hari yang baru dimulai.
Perempuan 42 tahun itu menata mangkuk rawon dan nasi jagung, sementara suaminya bersiap menuju kebun—ritual yang telah berlangsung puluhan tahun bagi keluarga buruh kopi di lereng Ijen.
Siseh, sapaan karibnya, menyebut upah harian suaminya berada di kisaran Rp40 ribu. “Kalau hanya mengandalkan itu, ya berat,” ujarnya. Dari alasan itulah ia membuka warung makan dan toko kelontong di pinggir jalan.
Di sela kesibukannya, ia menjadi saksi bagaimana para buruh mengembangkan strategi bertahan hidup: beternak kambing di kandang komunal, aset penting yang menjadi bantalan ekonomi warga di Blawan. “Satu orang bisa punya sampai 30 ekor,” katanya.
Ingatan dari Masa Sesokoh
Blawan dan Jampit bagian dari konsesi PTPN I Regional 5, masih memelihara ritme lama perkebunan yang terbentuk sejak era kolonial. Di sela lembah hijau itu, suara buruh memetik kopi, merumput di tegalan, atau membersihkan pelepah, menjadi orkes harian yang tak banyak berubah dari dekade ke dekade.
Salah satu saksi hidup lanskap panjang itu adalah Marganti, 80 tahun. Ia tumbuh di Blawan mengikuti ayahnya yang datang dari Sukosari untuk bekerja di perkebunan.
Ia masih ingat bagaimana kentongan subuh dibunyikan setiap hari—tanda seluruh buruh harus berkumpul sebelum berangkat ke kebun. “Kalau tidak hadir, dicoret,” katanya sambil tersenyum.
Marganti bercerita, ia dulu memasak sejak pukul tiga pagi sebelum berjalan ke afdeling. Siangnya bekerja, malamnya masih memasak untuk keluarga. “Istirahat itu cuma kalau badan tidak kuat menahan dingin dan sudah terlalu capek,” ujarnya.

Mantan buruh lainnnya, Dulmaksar, 86 tahun, menyimpan memori soal sistem upah lama. Ia menyebut istilah sesokoh, setaleh, dan sejempel—satuan borongan di masa awal ia bekerja. Sesokoh, kata dia, dulu setara Rp50 ribu. “Pertama kerja saya digaji sesokoh atau tiga rupiah,” ujarnya sambil terkekeh.
Dulmaksar lahir di Pamekasan. Ia pindah ke Ijen sebagai remaja. Dingin Ijen, menurutnya, adalah musuh abadi. “Di Madura pagi sudah keringatan. Di sini tidak kuat dingin, kadang tidak bangun subuh,” katanya.
Buruh yang Tak Mau Pensiun
Ritme kerja buruh tua inilah yang diperhatikan Muhamad Faozi, Kepala Desa Kalianyar. Menurutnya, banyak buruh tetap bekerja hingga usia 65–70 tahun kendati aturan formal di PTPN adalah pensiun di usia 55. “Mereka tidak mau bergantung pada anak. Selama bisa angkat cangkul, mereka kerja,” ujarnya.
Fasilitas dasar warga, kata Faozi, cukup memadai. Air minum bersumber dari mata air yang diuji kualitasnya oleh PTPN. Hanya air mandi yang sedikit berbau belerang karena pengaruh kandungan mineral pegunungan Ijen.
Menurut Thomas Evaluanto Nugroho dari SP-BUN PTPN XII, sekitar 3.000 pekerja terlibat dalam pengelolaan kopi di Blawan dan Jampit. Mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. “Investasi JCE (Java Coffee Estate) membantu menjaga perputaran ekonomi,” katanya. Konsep ini menghubungkan pekerja, pemangku kepentingan, dan pasar dalam satu kesatuan industri kopi yang stabil.
Kandang Komunal: Ekonomi yang Menguatkan Akar
Di luar jam kerja kebun, para buruh memikul rumput di punggung, menuju kandang-kandang komunal yang tersebar di beberapa titik Blawan. Sistem kandang bersama ini telah menjadi pilar ekonomi rumah tangga. Warga bekerja bergiliran menjaga, membersihkan, dan memberi pakan.
Nur Azizah menyebut banyak keluarga terbantu oleh sistem itu. “Ada yang bisa beli mobil dari kambing. Hasilnya buat dana sekolah anak juga,” ujarnya.
Struktur komunal ini hidup karena kejelasan aturan lokal: siapa yang menjaga, siapa yang merawat, dan bagaimana pembagian hasil dilakukan. Semua dijalankan tanpa ketegangan, diwarisi dari generasi lama yang terbiasa hidup dalam kolektivitas perkebunan.

PTPN dan Lanskap Baru Kopi Ijen
Restrukturisasi PTPN pasca-2023 membawa pola baru pengelolaan. Kolaborasi antara PTPN I dan PTPN IV menjadi fondasi penguatan komoditas kopi arabika.
Asep Sontani, SEVP Operation PTPN I Regional 5, mengatakan bahwa kolaborasi lintas-regional dibutuhkan agar produksi dan kualitas terjaga. “Kita harus bekerja kolaboratif. Tidak hanya dengan pemerintah daerah, tapi juga balai riset dan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, program replanting yang dilakukan PTPN menjadi tonggak penting untuk menjaga keberlanjutan. Ahmad Gusmar Harahap, Region Head PTPN IV Regional 3, menyebut peremajaan tanaman tua ini penting agar produktivitas kembali pada standar terbaik. “Produktivitas tinggi tidak ada artinya tanpa kualitas. Kopi itu sensitif terhadap rasa,” ujarnya.
Dalam kerangka itu, Java Coffee Estate menjadi ruang baru pengembangan kopi arabika: bibit unggul, standar pascapanen yang ketat, serta penataan ulang blok-blok tanam. Bagi buruh, proyek ini membuka kesinambungan kerja dan kepastian panen jangka panjang.
Harapan yang Tumbuh Bersama Kabut Ijen
Di Blawan dan Jampit, kehidupan para buruh kopi adalah cerita tentang ketahanan. Dari upah sesokoh di masa lalu, hingga kandang komunal yang menguatkan hari ini; dari disiplin kentongan subuh zaman Marganti, hingga replanting kopi yang menjadi harapan baru.
Mereka hidup di tengah industri yang terus bergerak, dan menjadi fondasi yang membuat kopi arabika Ijen tetap harum di pasar internasional. [awi/beq]






