Dari kandang ke industri, Jawa Timur mengubah kelimpahan pangan menjadi nilai tambah. Tepung telur Blitar menjadi bukti bahwa hilirisasi membuka pasar baru sekaligus memperkuat posisi peternak dalam rantai industri pangan.
***
Kita mulai dari kandang. Dari sentra telur Jawa Timur. Di Blitar, sebagian telur menempuh jalan berbeda. Tak lagi dijual sebagai butiran segar di pasar. Berton-ton dari mereka belok ke pabrik. Isinya dikeluarkan dari cangkang, diolah, dikemas, dijual sebagai tepung.
Bentuk berubah, masa simpan lebih panjang. Telur tak lagi berhenti sebagai komoditas peternakan. Tidak hanya mengisi rak pasar dan warung bulat-bulat. Ia kini masuk ke rantai industri pangan, menjadi bahan baku bagi produk yang beragam.
Proses ini digarap oleh PT Sinergi Pangan Mandiri. SIPAMAN. Ini unit usaha Koperasi Putra Blitar. Bagi peternak, tepung telur menjadi pilihan baru. Hasil kandang tak harus dijual bulat-bulat ke pasar. Telur bisa diolah menjadi produk dengan nilai lebih tinggi.
Gagasan itu keluar di tengah besarnya produksi telur Jawa Timur. Namun, produksi telur yang melimpah belum tentu berbanding lurus dengan kesejahteraan peternak. Stok melimpah bahkan diikuti anjloknya harga telur. Para peternak bahkan tak jarang menanggung kerugian.
Peternak sering kali tak punya pilihan. Masa simpan telur tak lama. Rata-rata hanya 21 hari untuk menyimpannya tetap segar. Jika harga turun, kadang menjual dengan harga murah menjadi satu-satunya jalan. Mereka tak bisa menahan telur sambil menunggu harga kembali naik.
Mari kita dengar keluh-kesah Rio Yudistira. Pada 7 Oktober 2026, ia berangkat ke Jakarta bersama 500 peternak Blitar. Mereka menumpang 15 bus tujuan Senayan. Gedung Dewan. Para peternak itu ingin mengadukan nasib ke DPR soal harga telur yang terus merosot.
Harga telur di tingkat peternak ketika itu berkisar Rp20.000 hingga Rp20.500 per kilogram. Sedangkan Harga Pokok Produksi Rp23.500 per kilogram. Hitung-hitungan itu jelas nggak ketemu secara bisnis. “Sudah enam sampai tujuh bulan ini harga telur terpuruk jauh di bawah HPP,” keluh Rio.
Peternak perlu jalan keluar. Dan mengolah telur menjadi tepung menjadi salah satu pilihan. Selain memberi nilai tambah, pengolahan juga memperpanjang masa simpan. SIPAMAN memberi celah untuk keluar dari situasi sulit itu.
Gagasan pendirian usaha tepung telur ini muncul pada 2018. Rencana awal terhenti karena persoalan pengelolaan dana. Pada akhir 2019, gagasan itu kembali bergerak setelah ada tawaran dukungan dari Kementerian Pertanian.

Para peternak ayam petelur Blitar membentuk kelompok Guyub Rukun Selawase untuk kemudian mengajukan bantuan mesin. Produksi mulai berjalan pada 2023, sebelum usaha ini berbadan hukum pada 2024.
Pengolahan itu menghasilkan sejumlah produk. Ada tepung telur utuh campuran kuning dan putih telur, tepung kuning telur, dan tepung putih telur saja. Produk ini dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri makanan.
“Kami ingin agar peternak rakyat tidak hanya menjual telur mentah, tapi juga bisa menghasilkan produk turunan bernilai tinggi,” kata Sukarman, Ketua Koperasi Putra Blitar.
Namun skala produksi pabrik tepung telur Blitar masih perlu ditingkatkan. Satu hari baru mampu menghasilkan 210 kg tepung telur. Enam hingga delapan ton sebulan. Baru skala UMKM.
Untuk menghasilkan 1 kg tepung, dibutuhkan 5 kg telur. Jika menghasilkan 210 kg sehari, artinya perlu sekitar 1 ton telur segar. Jika beroperasi 30 hari berarti ada sekitar 30 ton telur segar dari peternak bisa terserap untuk tepung.
Tepung yang dihasilkan dijual Rp125 ribu per kilo. Kini, pengolahan itu telah rutin menyuplai tepung telur ke PT Ajinomoto Indonesia sebanyak empat ton. Kualitas yang dihasilkan pun tak kalah dari produk impor. Kandungan protein tepung telur Blitar 39 persen, tepung impor hanya 28 persen.
Permintaan tepung telur dalam negeri juga lumayan banyak. Sebelum pabrik di Blitar beroperasi, seratus persen kebutuhan dipenuhi dari luar negeri. Dalam satu tahun, Indonesia mengimpor 2.500 ton tepung telur untuk kebutuhan industri.
Dukungan Pemerintah
Pemerintah Provinsi Jawa Timur tak berpangku tangan. Hilirisasi hasil pangan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Program prioritas digagas. Salah satunya Jatim Agro-hub. Ini program andalan untuk menghubungkan segala komoditas dari hulu ke hilir.
Program itu menghubungkan petani, peternak, dan nelayan, dengan proses pengolahan dan jaringan pemasaran. Dengan begitu komoditas pertanian dan peternakan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, melainkan juga produk jadi.
“Melalui Jatim Agro, kita memperkuat peran Jawa Timur sebagai lumbung pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, peternak, dan nelayan,” kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Surabaya.
Melalui program itu, Jawa Timur ingin tetap mengisi posisi sebagai lumbung pangan nasional. Provinsi ini memang menjadi salah satu penopang bagi komoditas pertanian dan peternakan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat provinsi ini menghasilkan sekitar 2,03 juta ton telur dari 136,91 juta ekor ayam ras pada 2025. Jumlah itu sekitar 32 persen produksi nasional yang mencapai 6,31 juta ton. Jumlah produksi mereka nomor satu di antara provinsi lain.
Dan, Kabupaten Blitar yang menjadi tempat pengolahan tepung telur itu menjadi salah satu sentra. Daerah itu menjadi rumah bagi 3.618 peternak. Populasi ayam petelurnya 17 juta ekor. Tahun lalu, Blitar menghasilkan 167.339 ton telur ayam ras.
Di kandang lain, Jawa Timur punya 444,43 juta ekor ayam pedaging pada 2025. Produksi daging ayam tahun itu 543,15 ribu ton. Sementara, populasi sapi potong Jawa Timur mencapai 3,67 juta ekor. Daging yang dihasilkan lebih dari 100 ribu ton atau sekitar 20 persen produksi nasional.
Jawa Timur juga menjadi kandang bagi sapi perah. Populasinya 301.735 ekor. Ini 60 persen populasi sapi perah nasional. Daerah ini menghasilkan 475.394,9 ton susu segar atau 57,9 persen produksi nasional.
Berbagai upaya itu turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Pada semester I 2026, ekonomi mereka tumbuh 5,84 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,45 persen.

Kini, Jawa Timur sedang membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengembangan Hilirisasi Peternakan. Aturan ini untuk melindungi peternak rakyat dari ancaman kejatuhan harga pasar akibat lonjakan pasokan.
Pengaturannya nantinya diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah ternak dan produk hewan, memperkuat mutu dan daya saing, mengembangkan keterkaitan sentra produksi dengan industri pengolahan dan pasar.
Selain itu, pemerintah daerah ingin meningkatkan posisi tawar peternak, memperluas akses pembiayaan, teknologi dan pasar. Dengan begitu, peternak akan berdaya dan sejahtera.
Jawa Timur punya modal produksi pangan besar. Namun, kelimpahan tak serta-merta menjamin kesejahteraan peternak. Produksi tinggi harus disertai kemampuan mengolah surplus menjadi nilai tambah dan memperluas pasar.
Di Blitar, sebagian telur sudah menempuh jalan berbeda. Mereka tak langsung ke pasar bulat-bulat. Sebagian belok ke industri, diolah menjadi tepung telur untuk memberi nilai tambah. “Ini bentuk nyata hilirisasi dari peternak rakyat,” kata Sukarman. []






