Ringkasan Berita:
- Munas VI Orshid di Jombang menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai tasawuf, kaderisasi, dan arah perjalanan organisasi Shiddiqiyyah menuju periode 2026–2031.
- Ratusan peserta dari 15 DPW, 110 DPD, serta perwakilan Malaysia mengikuti Munas VI ORSHID dengan agenda pembahasan program kerja, pendidikan, organisasi, ekonomi, dan transformasi digital.
- Koperasi Khozanah Shiddiqiyyah (KKS) menjadi salah satu capaian unggulan ORSHID dengan 13.500 anggota melalui konsep ta’awun, sementara proses pemilihan Ketua Umum baru mengedepankan musyawarah mufakat.
Jombang (beritajatim.com) – Jombang kembali menjadi saksi sebuah peristiwa penting yang mempertemukan gagasan, harapan, dan semangat pengabdian. Di sebuah malam yang penuh khidmat di Ballroom Hotel Yusro, ratusan peserta dari berbagai penjuru daerah berkumpul membawa satu tekad: menjaga nilai-nilai spiritual sekaligus merumuskan langkah organisasi menghadapi tantangan zaman.
Di tengah ruangan yang dipenuhi para peserta, Ketua Umum DPP (Dewan Pimpinan) Orshid, Joko Herwanto, melangkah menuju panggung. Dengan tenang ia berdiri di balik podium yang telah disiapkan.
Tatapan matanya menyapu ruangan, sebelum akhirnya suaranya terdengar membuka rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VI Organisasi Shiddiqiyyah (Orshid).
Pidatonya mengalir dengan penuh keyakinan. Setiap kalimat tersusun rapi, menggambarkan perjalanan panjang organisasi sekaligus harapan besar terhadap masa depan. Suaranya terkadang meninggi ketika menyampaikan semangat perubahan, namun melembut ketika mengajak peserta memahami makna amanah dan perjuangan bersama.
Tepuk tangan ratusan peserta yang memenuhi Ballroom Hotel Yusro menjadi tanda bahwa pesan yang disampaikan bukan sekadar sambutan pembukaan, melainkan sebuah ajakan untuk kembali menguatkan nilai-nilai kebersamaan.
Malam itu, Jumat (18/9/2026), Jombang tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah forum organisasi. Lebih dari itu, Jombang menjadi titik pertemuan sebuah ikhtiar besar untuk menghadirkan kebangkitan tasawuf dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa.
Munas VI Orshid: Merumuskan Arah Perjalanan Baru

Dengan tema ‘Kebangkitan Tasawuf untuk Indonesia Raya’, Munas VI Orshid berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026, di Hotel Yusro Jombang.
Forum nasional tersebut dibuka oleh Dewan Pemelihara Orshid, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtaba Mu’thi. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari 15 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), 110 Dewan Pimpinan Daerah (DPD), serta perwakilan dari Malaysia.
Sebanyak sekitar 500 peserta hadir dalam forum tersebut, termasuk peninjau dari berbagai organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah. Kehadiran mereka menggambarkan luasnya jejaring organisasi yang terus berkembang sejak berdiri pada tahun 2001.
Selain pengurus Orshid, pembukaan Munas VI juga dihadiri sejumlah tokoh daerah, di antaranya Wakil Bupati Jombang Salmanudin atau Gus Wabup, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Jombang Muhajir, Wakapolres Kompol Syarlis, perwakilan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta sejumlah tokoh pesantren.
Musyawarah untuk Menjaga Nilai dan Menjawab Zaman
Munas VI menjadi ruang penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun program kerja lima tahun mendatang.
Para peserta mengikuti lima sidang komisi yang membahas berbagai bidang strategis, yaitu Bidang AD/ART dan Pendidikan, Bidang Kemakmuran, Bidang Organisasi dan Pelestarian, Bidang Hubungan Antar Organisasi, serta Bidang Program Khusus dan Media Informasi.
Sejumlah gagasan baru muncul dalam pembahasan tersebut. Di antaranya penguatan bidang pendidikan, pengembangan keprotokoleran, serta pemanfaatan teknologi digital dan media informasi sebagai bagian dari adaptasi organisasi terhadap perkembangan zaman.
Bagi Orshid, perubahan bukan berarti meninggalkan nilai yang telah diwariskan, tetapi menjadi cara untuk menjaga agar nilai tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.
Dari Nilai Spiritual Menuju Kemandirian Sosial Ekonomi

Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam Munas VI adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban Ketua Umum DPP Orshid periode 2021–2026, Joko Herwanto. Laporan tersebut menjadi catatan perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir, termasuk berbagai program yang telah dijalankan.
Salah satu capaian yang menonjol adalah perkembangan Koperasi Khozanah Shiddiqiyyah (KKS) yang kini memiliki sekitar 13.500 anggota.
Melalui sistem ta’awun atau semangat saling membantu, KKS berupaya membangun kemandirian ekonomi warga Shiddiqiyyah maupun masyarakat umum. Konsep tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan nilai kepedulian sosial yang selama ini menjadi bagian dari gerakan organisasi.
Selain layanan ekonomi, KKS juga menghadirkan program pinjaman pelajar untuk membantu pembiayaan pendidikan. Kepedulian sosial juga diwujudkan melalui santunan bagi anggota yang meninggal dunia sebesar Rp7 juta.
Estafet Kepemimpinan dan Amanah Perjuangan
Di antara agenda penting Munas VI adalah pemilihan Ketua Umum DPP Orshid periode 2026–2031.
Proses penjaringan calon dilakukan melalui usulan dari masing-masing DPD dan DPW. Setiap daerah diberikan kesempatan mengusulkan tiga nama kandidat yang dianggap memiliki kapasitas dan integritas untuk memimpin organisasi.
Namun, proses tersebut tidak ditempatkan sebagai kompetisi untuk memperebutkan kekuasaan. Joko Herwanto menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Orshid merupakan amanah yang harus lahir dari semangat musyawarah.
“Ketua Umum bukan posisi yang diperebutkan dengan segala cara, namun sebuah amanah yang harus dilakukan dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab,” ujar Joko.
Menurutnya, kaderisasi menjadi bagian penting agar perjuangan organisasi dapat terus berjalan. Generasi penerus harus memiliki kemampuan, integritas, serta kesadaran untuk menghubungkan nilai keagamaan dengan kecintaan kepada bangsa dan negara.
Menjaga Tasawuf, Merawat Indonesia

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Jombang Salmanudin memberikan apresiasi terhadap kiprah Orshid dalam kehidupan masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa Munas menjadi momentum untuk mengevaluasi program yang telah berjalan, menyusun langkah baru, sekaligus memilih kepengurusan yang akan menerima amanah memimpin organisasi.
Ia juga mengapresiasi komitmen Orshid dalam melestarikan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjaga semangat cinta tanah air tanpa terlibat dalam politik praktis.
“Nilai spiritual dan kebangsaan dapat berjalan bersama dalam suasana damai, rukun, dan saling menghormati,” ujarnya saat sambutan.
Sejak berdiri pada tahun 2001, ORSHID telah melewati perjalanan panjang dengan berbagai penyelenggaraan Munas di sejumlah daerah seperti Jogja, Magelang, Bali, dan Jombang.
Munas VI di Jombang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Ia bukan hanya forum pergantian kepengurusan atau penyusunan program kerja, tetapi juga ruang untuk meneguhkan kembali arah perjuangan organisasi.
Dari Jombang, sebuah pesan kembali ditegaskan: bahwa tasawuf tidak berhenti pada ruang spiritual, tetapi hadir dalam bentuk kepedulian sosial, kemandirian ekonomi, pendidikan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Sebuah ikhtiar kecil dari sebuah kota di Jawa Timur, dengan harapan besar untuk Indonesia Raya. [suf]






