Lumajang (beritajatim.com) – Sebanyak 4,5 hektare lahan pertanian di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, rusak akibat banjir lahar Gunung Semeru yang menerjang kawasan setempat pada, Senin (2/11/2026). Kerusakan lahan pertanian akibat bencana tersebut menyebabkan petani di Kecamatan Tempursari menderita kerugian karena gagal panen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang Retno Wulan Andari mengatakan, lahan yang rusak tersebut diantaranya 2 hektare tanaman padi. Terdapat juga seluas 1 hektare lahan jagung, 1 hektare pisang, serta 0,5 hektare tanaman cabai yang mengalami kerusakan akibat banjir lahar.
“Jadi, total di Kecamatan Tempursari itu ada 4,5 hektare yang dipastikan mengalami gagal panen,” ucap Retno di Lumajang, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, banjir lahar tersebut juga merusak infrastruktur pengairan atau irigasi perpipaan bagi sawah di Kecamatan Tempursari. Akibatnya, saluran irigasi yang biasanya memberu suplai air ke sekitar 70 hektare sawah tidak lagi berfungsi karena tertimbun material banjir.
“Ini rusaknya saluran irigasi perpipaan membuat pasokan air ke lahan pertanian terganggu dan berpotensi menyebabkan sawah kekurangan air,” tambahnya.
Retno mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) agar bisa mempercepat proses pemulihan jaringan irigasi yang rusak.
Ia menyebut, salah satu opsi penanganan darurat yang dibahas adalah pembangunan bronjong untuk mengarahkan aliran air agar kembali masuk ke saluran irigasi untuk kebutuhan pertanian.
“Kemarin saya sudah bertemu dengan BBWS. Rencananya, untuk penanganan mendesak akan dibuatkan bronjong guna mengarahkan aliran air,” ungkapnya. (has/aje)






