Ngawi (beritajatim.com) – Tak hanya fokus pada pencegahan dan pemadaman kebakaran, Damkar Ngawi dapat tambahan tugas baru dari Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono.
Mulai Januari 2022, Ony menandatangani Perbup nomor 25 Tahun 2022 tentang kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi, serta tata kerja Satuan Polisi Pamong Praja termasuk yang didalamnya tugas Pemadam Kebakaran.
Tepatnya di Pasal 34 disebutkan bahwa seksi penyelamatan dan evakuasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 huruf c, dipimpin oleh seorang Kepala Seksi Penyelamatan dan Evakuasi yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Seksi Penyelamatan dan Evakuasi mempunyai tugas melaksanakan penyelamatan dan evakuasi korban kebakaran dan non kebakaran, menyelenggarakan pengelolaan sistem komunikasi dan informasi kebakaran dan penyelamatan dan layanan respon cepat (response time) penyelamatan dan evakuasi,
Tak hanya itu, juga harus menyelenggarakan layanan respon cepat (response time) penyelamatan dan evakuasi pada kondisi yang berpotensi membahayakan manusia dan operasi darurat non kebakaran lainnya, penyediaan dan pemeliharaan sarana prasarana peralatan penyelamatan dan evakuasi, melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan sesuai dengan tugas Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Kabid Damkar Satpol PP Ngawi Tri Bimo membenarkan jika pihaknya mendapatkan tugas tambahan utamanya di bidang penyelamatan. Namun, belum ada dukungan dana terlebih sarana prasarana untuk penyelamatan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kebakaran-ngawi”]
Setidaknya, mereka harus memiliki kendaraan operasional yang digunakan untuk penyelamatan. Karena tak efisien jika mereka berangkat ke lokasi penyelamatan menggunakan mobil damkar. Kedua, setidaknya harus punya perahu karet dan perlengkapannya. Serta belum ada alat vertical rescue untuk menyelamatkan korban di jurang atau sumur.
“Kalau untuk penyelamatan jelas tidak akan efisien jika menggunakan mobil pemadam kebakaran untuk ke lokasi. Bagaimana jika di waktu yang bersamaan terjadi kebakaran, smeentara mobilnya dibawa untuk penyelamatan. Kan bakal repot. Apalagi yang kami punya hanya 3 unit damkar. Dan hanya satu mobil pikap yang sulit mengcover seluruh wilayah di Ngawi,” kata Bimo pada beritajatim.com, Selasa (25/10/2022).
Kemudian, adanya perahu karet juga dinilai perlu jika mereka perlu melakukan pencarian korban yang tenggelam atau evakuasi warga ketika terjadi banjir. Belum lagi untuk kondisi darurat yang lain. Serta, alat vertical rescue yang bisa digunakan untuk mengevakuasi korban yang jatuh ke jurang.
“Anggaran pun juga minim. Hanya Rp300 juta di tahun ini, tahun depan makin kecil lagi hanya Rp251 juta dalam setahun,” pungkasnya Bimo. (fiq/ted)






