Ringkasan Berita:
- Penggunaan gambar bayi pada kemasan luar Aqua menuai kritik dari KPAI, BPKN, dan pakar periklanan.
- Danone Indonesia berdalih foto hanya ilustrasi keluarga pada pembungkus luar, bukan label utama produk.
- Pakar menegaskan aturan etika tetap berlaku di seluruh elemen visual pemasaran, termasuk kemasan luar.
- Strategi visual tersebut dinilai berpotensi mengeksploitasi simbol anak dan menyesatkan persepsi konsumen.
Jakarta (beritajatim.com) – Penggunaan foto balita pada kemasan air minum Aqua memicu sorotan tajam dari berbagai pihak karena dinilai melanggar etika periklanan dan berpotensi menyesatkan konsumen. Kritik datang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), hingga sejumlah pakar komunikasi dan periklanan yang menilai visual tersebut tidak sesuai dengan regulasi penggunaan citra anak dalam promosi produk umum.
Danone Indonesia selaku produsen Aqua memberikan klarifikasi bahwa gambar bayi tersebut hanya tercantum pada plastik pembungkus luar produk bundling dan bukan label utama pada botol. Direktur Komunikasi Danone Indonesia, Arif Mujahidin, menyatakan visual itu dimaksudkan sebagai ilustrasi keluarga bahagia, bukan eksploitasi simbol anak semata.
Namun, alasan tersebut dinilai tidak relevan oleh para ahli. Ketua Badan Pengawas Perusahaan Periklanan Indonesia (BP3I), Susilo Dwihatmanto, menegaskan bahwa lokasi penempatan gambar bukan faktor pembenar.
“Wajah anak, terutama bayi, memiliki kesan kepolosan yang secara psikologis dapat memicu simpati publik. Karena itu penggunaan wajah anak dalam komunikasi pemasaran harus sangat berhati-hati agar tidak dimanfaatkan secara berlebihan untuk kepentingan komersial,” tegasnya.
Menurut Susilo, pembungkus luar justru merupakan elemen visual pertama yang paling mudah ditangkap konsumen saat melihat produk di rak penjualan. Karena itu, seluruh aturan etika iklan tetap melekat meskipun gambar tidak berada langsung pada botol utama.
Pakar komunikasi Burhanuddin Abe juga menilai penggunaan gambar bayi dalam kemasan Aqua merupakan bentuk eksploitasi simbolik yang memanfaatkan citra kepolosan, kesehatan, dan keamanan demi kepentingan komersial.
“Kepatuhan kepada aturan bukan hanya kewajiban hukum, tapi juga upaya menjaga transparansi serta kepercayaan publik terhadap produk yang mereka pasarkan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa air minum umum bukan produk khusus bayi atau balita, sehingga penggunaan simbol anak dapat menciptakan persepsi keliru di benak masyarakat.
Peneliti Brand Strategy dari LSPR Institute of Communication and Business, Safaruddin Husada, menambahkan bahwa strategi visual semacam ini sangat berpengaruh secara psikologis terhadap keputusan konsumen.
“Jika untuk bayi saja aman, tentu lebih aman lagi bagi orang dewasa,” jelasnya mengenai persepsi bawah sadar yang dapat terbentuk melalui simbol visual bayi.
Safaruddin menilai perusahaan sengaja memanfaatkan area abu-abu dalam etika pemasaran untuk memperkuat daya tarik produk di tengah persaingan pasar yang ketat. Padahal, strategi semacam itu berisiko menimbulkan interpretasi menyesatkan bahwa produk memiliki keunggulan khusus bagi balita.
Kontroversi ini mempertegas pentingnya pengawasan ketat terhadap praktik pemasaran, terutama yang menggunakan simbol anak untuk produk konsumsi massal. Transparansi, kepatuhan regulasi, dan tanggung jawab etis dinilai harus menjadi prioritas utama dalam membangun kepercayaan publik. [beq]






