Malang (beritajatim.com) – Akibat cuaca buruk, para nelayan Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang pilih tak melaut. Akibatnya, hasil tangkapan ikan menurun hingga 80 persen.
“Kondisi nelayan sangat memprihatinkan, cuaca begini ini nelayan tidak bisa melaut, ekonomi tersendat. Kalau terpaksa melaut hasil tangkapan turun hingga 80 persen, ” ungkap nelayan di Pantai Sendangbiru, Hermanto, Selasa (27/2/2023).
Kata dia, saat kondisi cuaca buruk seperti ini ikan kecil maupun besar sulit ditangkap. Terlebih, gelombang air laut saat ini cukup tinggi bisa mencapai 2 meter di tepi pantai. Praktis, hasil tangkapan ikan turun signifikan.
“Hasil tangkapan akan mulai normal di bulan April dan bulan Mei biasanya, tetapi itupun belum pasti,” tegasnya.
Baca Juga: Warga Mergosono Malang Harap Jembatan Gantung di Gang 3 Dibangun Permanen
Hermanto mengaku, hasil tangkapan ikan nelayan saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga, sebagian nelayan terpaksa berutang untuk bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah agar nelayan ini bisa bertahan,” tegas Hermanto.
Menurutnya, ribuan nelayan di Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan saat ini berhenti melaut akibat cuaca ekstrem, belum mendapat bantuan dari pemerintah Kabupaten Malang.
“Kalau bantuan dari pemerintah belum ada, kami dua bulan ini berhenti melaut, makan saja sulit,” tutur Hermanto.
Baca Juga: Wali Murid SDN 3 Mendalanwangi Malang Bangun Kelas Dari Dana Swadaya
Ia mengaku selama ini, mayoritas nelayan di Pantai Sendangbiru hanya mengandalkan uang pinjaman untuk bertahan hidup. Memenuhi kebutuhan makan sehari hari.
“Ya karena hasil tangkapan tidak ada, cuacanya begini, fluktuatif, kami tidak berani beraktifitas di laut, ombak tinggi dan angin kencang,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Malang memperhatikan nelayan yang kini kesulitan untuk mencari nafkah. Minimal untuk bisa bertahan hidup hingga bulan April, yang diperkirakan kondisi akan normal.
“Harapan nelayan diberikan bantuan untuk bertahan hidup saja. Pengalaman kondisi normal di bulan April atau Mei, biasanya. Namun, cuaca tidak bisa diprediksi seperti tahun lalu, kami hanya mengandalkan utang,” Hermanto mengakhiri. [yog/beq]






