Mojokerto (beritajatim.com) – Wakil Gubenur (Wagub) Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak turun langsung dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto terkait Penanganan Covid 19. Wagub Emil menyebut Mojokerto memiliki pertumbuhan kasus tertinggi se-Jawa Timur.
“Sehingga kami menghubungi bu Bupati untuk berkoordinasi serta kami kesini untuk mengetahui situasi di lapangan secara langsung bersama Pak Wakil Bupati,” hal itu disampaikan pada rapat koordinasi dengan Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati bersama Forkopimda Mojokerto di Pendopo Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto.
Mantan Bupati Trenggalek ini, meminta Pemkab Mojokerto untuk meningkatkan fasilitas kesehatan. Menurutnya pasien dengan gejala sedang sampai berat bisa dilakukan perawatan di rumah sakit rujukan, sedangkan untuk pasien dengan gejala ringan bisa mengandalkan fasilitas yang ada. Seperti puskemas dan desa.
“Tadi sudah dinventarisir ada sekitar 500-an bed dan baru terisi 340-an, jadi masih ada sisa karena kita maunya lebih rendah. Desa memiliki Rp50 juta sampai Rp100 juta untuk membuat fasilitas itu, nah karena itulah beliau tadi berkonsultasi apakah harus tersentralisasi atau terdesentralisasi,” tambah suami Arumi Bachsin ini.
Wagub Emil meminta agar Pemkab Mojokerto untuk memetakan resiko penularan Covid-19. Wagub Emil juga menyarankan, bagi pekerja di Mojokerto yang memiliki kampung halaman berdekatan dengan tempat kerja agar dilakukan pengawasan karena memungkinkan para pekerja tersebut pulang sehingga akan terjadi resiko mobilitas para pekerja.
“Jadi tadi kami mengidentifikasi resiko penyebarannya, pertama dengan melakukan kros cek data ke KUA. Ternyata ada 800 orang yang berpotensi melakukan hajatan dalam waktu dekat. Kedua, berkaitan dengan tempat kerja. Nah pekerja-pekerja di Mojokerto yang memiliki kampung halaman berdekatan yang memungkinkan untuk pulang,” katanya.
Ketiga, lanjut Wagub Emil, untuk Rumah Sakit (RS) diharapkan tidak menerima penjenguk dalam masa pandemi Covid-19 mengingat resiko penyebaran juga tingg. Lulusan doktor universitas di Jepang ini, diharapkan hal tersebut menjadi atensi bersama sehingga bisa meminimalisir angka penyebaran Covid-19 di RS.
“Nah ini, tentu harus menjadi atensi kita bersama. Selain itu, agar perketat tracing. Kita berbicara mengenai kluster, disini harus ada kedisiplinan untuk melakukan tracing 20 orang sampai 25 orang yang teridentifikasi positif. Kalau misalnya kasus ini tidak ada kluster tertentu namun bisa saja memiliki tempat kerja yang sama atau pernah berpergian bersama tentu rumus ini berubah,” jelasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-mojokerto”]
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parwansa memberi atensi khusus terhadap tracing. Menurutnya, Gubenur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur akan berkoordinasi utamanya dalam hal tracing sehingga tahu apa yang harus disinergikan. Wagub Emil mengapresiasi langkah yang sudah dilakukan Pemkab Mojokerto dan masyarakat.
“Pada intinya sebenarnya banyak sekali yang telah dilakukan oleh Pemkab Mojokerto dan masyarakat untuk menanggulangi Covid-19. Mari kita menahan untuk tidak beraktivitas di luar rumah kalau tidak penting sekali, sebelumnya kita sudah berhasil menurukan pertumbuhan kasus. Hari ini, kita harus bisa kembali menurukan pertumbuhan kasus Covid-19,” tutupnya. [tin/but]







