Surabaya (beritajatim.com) – Pada awal tahun 2010, Cina dianggap sebagai pasar tak tersentuh dengan sejuta peluang bagi industri K-Pop. Berbagai penyanyi yang berhasil menembus pasar Cina seperti EXO, yang awalnya memiliki 4 member Tiongkok, dapat menggelar konser di berbagai kota di Cina hingga muncul dalam berbagai program televisi populer bersama dengan selebriti papan atas lokal.
Akan tetapi, segala kesempatan tersebut hilang pada tahun 2016 setelah Korea Selatan memutuskan untuk mengerahkan sistem pertahanan rudal U.S. Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) meskipun mendapatkan objeksi dari Cina. Sejak saat itu, penyanyi Korea Selatan dilarang untuk bisa tampil di Cina. Karenanya perusahaan-perusahaan besar dalam industri K-Pop kehilangan salah satu pasar besarnya yang menyebabkan mereka harus mengalami penurunan penjualan hingga 20% di tahun 2016.
Beberapa waktu yang lalu, perusahaan-perusahaan dalam industri K-Pop menemui tantangan lainnya: Pemerintah Cina memperkuat regulasi mereka di sektor hiburan, dengan salah satu targetnya adalah bintang-bintang K-Pop. Pada awal Bulan September, salah satu media sosial ternama di Tiongkok, yaitu Weibo, memberikan cekalan pada salah satu akun penggemar Jimin (anggota grup BTS) selama 60 hari.
Setelah akun tersebut berhasil mengumpulkan sekitar ₩490 juta (sekitar Rp5,9 milyar) untuk merayakan ulang tahun member BTS tersebut pada 13 Oktober mendatang dengan cara membayar sebuah maskapai penerbangan lokal untuk menghias salah satu pesawat mereka dengan foto-foto Jimin. Weibo mencekal akun tersebut karena dinilai melakukan “penggalangan dana ilegal”. Selain akun tersebut, Weibo juga mencekal banyak akun penggemar K-Pop dengan alasan “perilaku memuja bintang yang irasional”.
Pencekalan yang dilakukan oleh Weibo merupakan buntut dari ditetapkannya Cyberspace Administration of China (CAC). Dengan ditetapkannya aturan tersebut, para penggemar tidak diperbolehkan untuk mengumpulkan uang untuk mendukung idola mereka. Selain itu, penggemar juga tidak diperbolehkan untuk berdebat dan memaki satu sama lain secara online.
Meskipun dengan diperketatnya aturan industri hiburan Cina, banyak ahli industri yang percaya bahwa hal tersebut tidak akan berdampak fatal pada industri K-Pop. Yang saat ini sedang dalam keadaan sangat baik karena memiliki pasar-pasar besar lainnya, seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Bahkan, menurut salah satu situs penjualan album di Korea Selatan, Gaon, 50 juta kopi CD K-Pop akan terjual tahun ini di seluruh dunia, meskipun penjualan di Cina akan berkurang hingga 1-2 juta kopi karena aturan baru yang ada. Selain itu, sejak konflik THAAD yang terjadi 2016 lalu, perusahaan-perusahaan K-Pop juga semakin mengurangi ketergantungan mereka kepada pasar mereka dan menyusun berbagai strategi pemasaran baru di pasar dunia. [dwp/esd]






