Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) melalui Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), sukses menyelenggarakan babak final Liga Matematika Santri Nusantara (LIMAS) Tahun 2026. Perhelatan ini berlangsung di Hall Abdurrahman Wahid, Gedung Pascasarjana Lantai 7 Unisma pada Sabtu (7/2/2026).
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Unisma, Isbadar Nursit, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa LIMAS 2026 diikuti oleh peserta dari 8 provinsi serta 30 kota/kabupaten di Indonesia. Antusiasme peserta terlihat dari sebaran geografis yang sangat luas.
Ajang ini menjadi panggung bagi ratusan santri dari berbagai penjuru tanah air untuk unjuk gigi dalam ilmu pasti. Kegiatan ini bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan rangkaian besar yang mengintegrasikan pengembangan potensi siswa dan peningkatan profesionalisme guru matematika di bawah naungan nilai keislaman.
“Peserta terjauh datang dari Mamuju (Sulawesi Barat), Kerinci (Jambi), Bali, hingga Balikpapan (Kalimantan Timur). Total ada sekitar 200 peserta yang mendaftar, dan hari ini 100 finalis terbaik bertarung di babak final untuk memperebutkan medali emas, perak, dan perunggu,” ujar Isbadar.
Para juara tidak hanya membawa pulang kebanggaan, tetapi juga apresiasi berupa uang tunai (fresh money), piala, medali, serta tabungan pendidikan. Menariknya, tabungan pendidikan ini dapat dicairkan apabila para finalis memutuskan untuk melanjutkan studi sebagai mahasiswa di Unisma.
Selain kompetisi LIMAS, Prodi Pendidikan Matematika Unisma juga memperkenalkan program Pra-University. Program ini merupakan kelas online yang diikuti oleh 120 siswa nasional selama 14 pertemuan dengan pengajar dari kalangan dosen.
Siswa yang mengikuti program ini secara rutin mendapatkan keistimewaan berupa ekivalensi mata kuliah. Jika masuk ke Prodi Pendidikan Matematika Unisma, materi Pra-University akan diakui sebagai mata kuliah Analisis Olimpiade. Selain itu, ada juga golden ticket, peserta terbaik diberikan jalur khusus untuk masuk tanpa tes ke Pendidikan Matematika Unisma.
Sembari menunggu siswa berkompetisi, Unisma juga mewadahi para guru pendamping dan anggota MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dari Malang Raya, Kediri, Pasuruan, hingga Probolinggo melalui kegiatan GEMA (Gerakan Menulis Guru Matematika).
“Kami ingin guru matematika tidak hanya mengajar, tapi juga mampu menghasilkan karya nyata berupa buku ber-ISBN. Jadi, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui; sisanya ujian, gurunya ikut pelatihan,” tambah Isbadar.
Senada dengan hal tersebut, Dekan FKIP Unisma, Dr. Hamiddin, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya peran matematikawan muslim. Menurutnya, matematika adalah ilmu yang sangat dekat dengan syariat, seperti dalam perhitungan waris (faraid) dan penentuan awal bulan Ramadan.
“Matematika bukan ilmu dunia semata, tapi juga ilmu akhirat. Tanpa matematika, pembagian waris bisa memicu pertengkaran. Di Unisma, kami mencetak santri yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga religius,” tegas Dr. Hamiddin.
Ia juga menyoroti keunggulan Prodi Pendidikan Matematika Unisma yang memiliki pakar kelas dunia, seperti Prof. Rahmat, yang diakui sebagai salah satu matematikawan berpengaruh secara global. Dr. Hamiddin mengajak para guru yang belum menempuh studi lanjut untuk bergabung melalui program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) di S2 Pendidikan Matematika Unisma.
Kegiatan LIMAS ini dikelola secara efisien oleh para dosen guna memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui branding sekolah berbasis keislaman (madrasah), Unisma berharap prestasi matematika dapat menjadi daya tarik unggulan bagi sekolah-sekolah mitra.
“Kami berkomitmen menjadikan LIMAS, Pra-University, dan GEMA sebagai agenda rutin tahunan. Ini adalah sumbangsih kami untuk mengangkat nama Unisma dan memberikan wadah bagi sekolah Islam untuk menunjukkan prestasi akademis yang prestisius,” pungkas Isbadar. (dan/kun)






