Surabaya (beritajatim.com) – Sepanjang 2025, pendidikan di Jawa Timur (Jatim) masih menghadapi persoalan mendasar meski arah kebijakan nasional dinilai lebih jelas.
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Achmad Hidayatullah mencatat angka anak tidak sekolah di sejumlah daerah Jatim masih tinggi dan belum diimbangi pemenuhan kebutuhan guru di sekolah.
Dayat menilai kebijakan pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sepanjang 2025 menunjukkan orientasi peningkatan mutu. Pemerintah pusat, menurutnya, mulai memberi perhatian lebih pada guru melalui peningkatan tunjangan sertifikasi, bantuan peningkatan kualifikasi lewat rekognisi pembelajaran lampau (RPL), serta pelatihan pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan buatan.
“Kebijakan-kebijakan ini positif dan perlu didukung, meskipun tentu masih ada ketidaksempurnaan dalam pelaksanaannya,” kata Dayat, Rabu (31/12/2025).
Namun di tingkat daerah, ia melihat masih tingginya angka anak tidak sekolah di beberapa kabupaten di Madura. Dayat menyebut Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan sebagai wilayah yang perlu perhatian lebih serius dari pemerintah daerah dalam memastikan akses dan keberlanjutan pendidikan.
Selain akses, persoalan mutu pembelajaran juga dinilai belum sejalan dengan kebutuhan di lapangan. Salah satu faktor utamanya adalah kekurangan guru di banyak sekolah, terutama akibat gelombang pensiun yang tidak diikuti rekrutmen baru oleh pemerintah kabupaten dan kota.
“Banyak sekolah kekurangan guru karena yang pensiun tidak diganti. Padahal ada calon guru yang sudah lulus PPG dan bersertifikasi, tetapi tidak terserap karena daerah tidak membuka perekrutan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah telah mendorong peningkatan kualifikasi guru yang belum sarjana melalui program RPL dan sertifikasi. Dayat menilai upaya ini perlu diiringi kebijakan tegas di tingkat provinsi dan daerah agar sekolah merekrut guru yang memenuhi standar kualifikasi.
“Kalau sekolah masih merekrut guru yang belum sarjana dan belum bersertifikasi, persoalan kualitas tidak akan pernah selesai,” kata Dekan Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains Umsura itu.
Terkait kualitas pembelajaran, Dayat menilai 2025 membawa semangat baru melalui pelatihan pembelajaran mendalam yang menekankan pembentukan growth mindset siswa. Menurutnya, kebijakan ini berbeda dari pendekatan sebelumnya yang lebih menitikberatkan aspek kognitif semata.
“Mindset siswa adalah faktor penentu prestasi yang lama diabaikan. Kalau guru tidak yakin membangun mindset bertumbuh, metode pembelajaran apa pun tidak akan efektif,” ujarnya.
Ia juga menanggapi hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang menunjukkan rendahnya capaian siswa di sejumlah mata pelajaran seperti matematika, bahasa Inggris, kimia, dan fisika. Dayat menilai hasil tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai dampak kebijakan baru.
“Penurunan literasi di mata pelajaran itu sudah berlangsung lama. Salah satu indikatornya terlihat dari rendahnya minat calon mahasiswa pada jurusan-jurusan tersebut,” kata Dayat.
Memasuki 2026, ia menekankan pentingnya sinkronisasi data pendidikan di Jatim, percepatan pemenuhan kualifikasi guru, serta penguatan kualitas pembelajaran mendalam. Menurutnya, hasil TKA dapat digunakan sebagai alat evaluasi, bukan sebagai penilaian tunggal atas keberhasilan kebijakan.
“Pembelajaran mendalam baru berjalan satu tahun. Tidak adil jika langsung dijadikan ukuran kegagalan. Tes bisa menjadi standar evaluasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ke depan,” ujarnya. [ipl/kun]






