Bondowoso (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso mencatat akselerasi penurunan stunting tercepat di Jawa Timur. Setelah sempat berada di posisi kedua tertinggi prevalensi stunting se-Jatim pada 2022 dengan angka 32 persen.
Hanya butuh 2 tahun, kini Bondowoso sukses menekan angka itu menjadi 11,2 persen di tahun 2024 atau turun 21 persen.
“Dulu pernah 37 persen, lalu 32 persen (2022), kemudian 17 persen (2023), dan sekarang 11,2 persen. Ini capaian luar biasa dan harus dipertahankan sebagai praktik baik,” ujar Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Bondowoso, Anisatul Hamidah, Rabu (11/6/2025).
Menurut Anisatul, capaian ini tidak semata hasil kucuran anggaran. Meski tahun 2024 dianggarkan Rp101 miliar untuk program percepatan penanganan stunting, kunci utamanya adalah sinergitas dan konvergensi antar sektor.
“Kita tidak hanya melihat anggaran. Tapi bagaimana semua pihak terlibat aktif. Ada effort dan semangat kolektif,” ujarnya.
Beberapa inovasi lokal disebut sebagai pendorong percepatan. Di Curahdami ada program SiKeCe Abis, di Cermee ada PERANG, serta Intan Berlian di wilayah lainnya. Pemerintah desa juga didorong aktif menciptakan inovasi sendiri.
Anisatul mencontohkan Kecamatan Cermee yang menggandeng Koramil dan para pengusaha lokal sebagai bapak asuh anak stunting.
“Mereka mengidentifikasi jumlah balita stunting dan potensi dukungan pengusaha. Lalu disalurkan bantuan seperti telur dan susu yang dipantau setiap pekan,” katanya.
Posyandu kini juga bertransformasi sebagai layanan terpadu. “Bukan hanya kesehatan, tapi juga perlindungan sosial, sanitasi air bersih, hingga perumahan rakyat terlibat dalam program terpadu,” imbuhnya.
Ia mengajak masyarakat untuk rutin datang ke Posyandu. “Di sana bukan sekadar berobat, tapi juga memantau tumbuh kembang anak. Ini penting untuk mewujudkan generasi emas berkualitas pada 2045,” tegas Anisatul. (awi/ted)






