Surabaya (beritajatim.com) – Ketika kita hadir di dunia dan berinteraksi dengan banyak manusia, maka disana lah kita mengenal dan belajar mendalam mengenai emosi. Misalnya bertengkar dengan tetangga, bersaing dengan teman kantor, atau perkara sederhana seperti membaca status mantan. Lalu apa, sih emosi itu?
Sebuah misconsepsi yang berkembang mengatakan bahwa emosi adalah amarah dan kemarahan. Padahal Emosi adalah warna tertentu yang hadir pada diri manusia ketika mereka menghadapi suatu keadaan dan situasi. Yang dimaksud warna ini sebenarnya adalah perasaan-perasaan yang kita kenal dan sering menjadi pembicaraan sehari-hari. Diantaranya kesal, gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci dan sebagainya.
Selayaknya sebuah konseptor, emosi ternyata juga berhubungan dengan fungsi tubuh. Si yang paling bertanggungjawab mengendalikan munculnya emosi adalah kelenjar pituitari. Letaknya berada tepat di bawah otak yang memiliki koneksi orang dalam dengan area jaringan di otak.
Kita sebut saja kelenjar ini si kecil, karena memang ukurannya yang mini jika dibandingkan dengan bagian otak lainnya, hanya seukuran kacang polong. Si kecil ini sebenarnya berkedudukan sebagai kelenjar master karena dapat mengendalikan semua fungsi tubuh. Yakni menghasilkan hormon untuk membantu mengendalikan banyak proses dan fungsi organ pada tubuh.
Untuk mengendalikan emosi, si kecil ini mengeluarkan hormon adrenokortikotropik atau ACTH. Hormon ini merangsang kelenjar adrenal untuk mengeluarkan kortisol dan aldosteron. Jika kedua hormon ini bekerjasama dengan baik maka kadar tekanan darah dan kadar gula darah akan tetap stabil.
Sebenernya hormon kortisol secara khusus berfungsi sebagai pengendali emosi, kemudian hasil akhirnya disalurkan kepada saraf-saraf untuk merespon kejadian yang ada di luar tubuh. Tapi sebagian orang yang menderita kecemasan, mudah marah, dan depresi menyalahkan si kecil ini karena terlalu banyak memproduksi hormon kortisol.
Tapi apakah benar emosi itu bisa dikendalikan?
Ada satu hal yang menarik mengenai emosi manusia, loh. Kita bisa mengendalikan rasa, bentuk, dan seberapa kuat emosi tersalurkan. Beberapa orang yang telah sampai di ‘titik’ itu akan lebih mudah dalam mengambil keputusan dan memikirkan ulang mengenai banyak aspek dalam hidupnya.
Menyoal dari faktanya, mengendalikan emosi itu memang teramat susah. Bahkan sebagian ahli menyarankan untuk menghindari sumber dari efektor emosi itu sendiri yang berasal dari keadaan di luar tubuh. Tetapi, kan kita tidak bisa menghindari efektor terus-menerus, mengingat kita adalah makhluk sosial.
Bahkan jika kita sengaja menarik diri dari kelompok sosial dan hidup menyendiri, justru kita akan membahayakan diri sendiri. Karena bagaimanapun kita memerlukan dokter, ibu-ibu penjual sayuran, bapak-bapak tukang parkir, mbak-mbak teller bank, dll.
Kemudian, saya ingin menekankan bahwa manusia memiliki keahlian untuk mengubah kejadian buruk yang terjadi pada dirinya menjadi sebuah kemenangan besar. Kita mungkin tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi pada diri kita, mengubah perspektif orang lain terhadap kita, atau juga mengendalikan keadaan sesuka kemauan kita.
Namun kita memiliki pilihan untuk memutuskan bagaimana kita menjalani dan menghadapi sesuatu. Pilihan yang bijaksana akan kita dapatkan apabila sanggup mengendalikan emosi dan berpikir ‘dewasa’ dalam mengambil keputusan.
Ketika kita sudah bisa mengontrol emosi dan memutuskan sesuatu dengan bijak, baik itu sedikit demi sedikit, maupun diperoleh dengan merangkak sekalipun. Jiwa yang paling diuntungkan adalah diri kita sendiri.
Di lain sisi ada orang yang tidak perduli dengan emosinya yang meledak-ledak. Tidak perduli apakah keputusannya yang tidak dewasa dalam menyikapi sesuatu akan merugikan orang lain. Kita memang boleh beda dan bahkan itu suatu keniscayaan namun tentu tidak boleh melanggar norma sosial, seenaknya sendiri, membahayakan orang lain, yang cenderung menimbulkan pertikaian atau merugikan pihak lain hanya untuk memuaskan rasa ego dan emosi.
Ayodeji Awosika pernah menulis begini,
“Sometimes the best way to point your life in a new direction is to become completely disgusted with your current one… I finally said enough is enough.’ Strong negative emotions can be just as powerful as positive ones. When will ‘enough be enough,’ for you? When will you decide you can’t live this way for even one more day? Once you make that decision, everything changes.” (Kai/ian)






