Surabaya (beritajatim.com) – Orang tua mana yang tak ingin anaknya tumbuh cerdas? Tak ayal jika para ibu maupun ayah kerap memberikan asupan terbaik untuk tumbuh kembang anaknya.
Namun, tak hanya makan-makanan sehat dan juga faktor genetik, cara parenting orang tua juga sangat mempengaruhi kecerdasan anak ke depannya. Sehingga perlunya ibu dan ayah mempelajari beragam cara untuk diterapkan sehingga anak dapat tumbuh dengan cerdas.
Usia 0-4 bulan
Pada usia-usia ini, anak memang belum bisa berbicara bahkan mengerti mengenai apa yang dibicarakan orang lain. Namun, para orang tua harus aktif untuk mengajak anak mengobrol, seperti menceritakan sebuah dongeng hingga menyanyikan lagu.
Usia 4-6 bulan
Latih anak untuk mengenal banyak warna. Memang mereka tidak dituntut mengerti nama-nama warna, tapi setidaknya orang tua sudah mengenalkan berbagai jenis warna. Selain itu, indra peraba juga perlu dilatih. Maka beri berbagai macam benda dengan beragam bentuk. Biarkan mereka juga merasakan tekstur benda-benda tersebut.
Usia 6-18 bulan
Jika sebelumnya anak belum bisa mengenal dan mengerti apa yang diberikan dan diucapkan oleh orang tuanya. Maka, pada usia ini, sebaiknya orang tua lebih rutin mengulang dongeng, nyanyian, atau apapun itu yang bisa secara aktif berinteraksi dengan anak.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pendidikan”]
Usia 18-24 bulan
Mulai kenalkan berbagai macam hewan. Mulai dari suara, bentuk tubuhnya, yang mungkin besar, kecil, panjang, pendek, atau lainnya. Bisa juga dengan menyebutkan warna atau jumlah kaki hewan tertentu. Hal ini tak sekadar membuatnya mendengar dan berbicara, tapi juga berpikir sekaligus mengingat.
Usia 2-5 tahun
Umumnya usia di atas dua tahun, kemampuan motorik anak sudah meningkat. Berikan aktivitas-aktivitas nyata, seperti bermain bola gelinding, dokter-dokteran, atau mobil-mobilan. Dorong anak untuk membantu pekerjaan orang tua yang ringan. Seperti mengelap meja, menyapu, atau mencuci motor.
Pada usia ini, anak juga perlu diajarkan tentang mengenal keluarga, berbagi dengan saudara atau teman, hingga bercerita tentang hal-hal baru yang mungkin ia alami. (Fyi/ian)






