Mojokerto (beritajatim.com) – Candi Tikus di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ditemukan pada tahun 1914 oleh Bupati Mojokerto R.A.A. Kromodjojo Adinegoro secara tidak sengaja. Candi Tikus dipergunakan sebagai petirtaan baik oleh penganut Hinduisme maupun Buddhisme pada zaman Kerajaan Majapahit.
Penemuan tersebut diawali dengan laporan penduduk bahwa di daerah tersebut terjangkit wabah tikus yang bersarang di sebuah undukan. Ketika gundukan dibongkar ternyata di dalamnya terdapat ssebuah candi yang kemudian disebut Candi tikus.
Sejarah penemuan inilah hingga sekarang banyak petani baik dari daerah sekitar Mojokerto maupun luar kota yang sawahnya diserang hama tikus datang ke tempat ini untuk memperoleh air candi yang dipercaya dapat mengusir hama tikus.
BACA JUGA:Satpol PP Kota Kediri Operasi Rokok Ilegal pada 13 Toko
Bangunan Candi tikus berdiri pada permukaan tanah yang lebih rendah dari daerah sekitarnya, yaitu lebih kurang sedalam 3,5 meter. Oleh Karena itu, untuk mencapai lantai dasar candi harus menuruni tangga masuk yang berada di sisi utara yang merupakan pintu masuk candi.
Orientasi Candi tikus adalah menghadap ke utara dengan azimuth 200. Candi Tikus berdenah buju sangkar dengan ukuran 22,5 x 22,5 meter serta tinggi dari lantai sampai puncak candi adalah 5,20 meter. Bahan bangunannya didominasi oleh bata, sedang batu andesit digunakan untuk pancurannya.
Dinding Candi tikus dibut berteras untuk menahan tanah sekitarnya. Pada dinding bagian bawah serta batur candi inilah terdapat pancuran yang seharusnya berjumlah 46 buah, namun kini tinggal 19 buah sementara yang lain tersimpan di Museum Trowulan.
Adapun bentuk jaladwara atau pancurannya ada dua macam yaitu padma atau lotus dan makara. Pada dinding utara bagian bawah di kiri-kanan tangga masuk terdapat bilik berupa kolam berukuran sama panjang 3,5 meter, lebar 2 meter dan tinggi 1,05 meter.
Pintu masuknya mempunyai tangga, terletak di dinding sebelah selatan berukuran lebar 1,2 meter. Dinding utara kolam terdapat pancuran masing-masing berjumlah tiga buah. Seluruh pancuran air dahulu mendapat pasokan air melalui saluran yang terdapat di bagian selatan.
Yaitu di belakang candi induk, sementara saluran pembuangan terletak di lantai dasar. Bangunan induk terletak di tengah, kakinya menempel pada teras bawah dinding selatan. Struktur bangunan induk terdiri dari kaki, tubuh, dan atap.
Kaki candi berdenah segi empat berukuran panjang 7,75 meter, lebar 7,65 meter dan tinggi 1,5 meter. Pada bagian kaki ini terdapat saluran air tertutup mengelilingi candi, lebar 17 cm dan kedalaman 54 cm, berguna untuk memasok air ke pancuran-pancuran sepanjang kaki candi.
Tubuh candi berdenah bujur sangkar, berukuran 4,8 x 4,8 meter. Di sisi barat, utara, dan timur menempel pada bagian luar tubuh candi terdapat menara semu, masing-masing berjumlah lima buah. Di atas tubuh candi terdapat 4 buah menara berukuran 0,84 x 0,80 meter terletak pada setiap sudutnya.
BACA JUGA:Tangis Keluarga di Surabaya Pecah Saat Pemakaman Korban Laka KA di Lumajang
Menara yang paling besar berdiri di tengahnya berukuran 1 x 1,04 meter serta tinggi 2,76 meter. Kemuncak menara-menara ini telah hilang hingga tidak diketahui dengan pasti bentuknya. Menara-menara ini menggambarkan Gunung Mahameru sbagai pusat makro kosmos.
Oleh karena itulah diperkirakan Candi Tikus dipergunakan sebagai petirtaan baik oleh penganut Hinduisme maupun Buddhisme yang keduanya menganut konsep Mahameru sebagai tempat suci. Candi Tikus dipugar pada Tahun Anggaran 1984/1985 sampai dengan 1988/1989.
Arkeolog Andi Muhammad Said menyebutkan jika Candi Tikus bukanlah candi melainkan petirtaan. “Mungkin yang hanya perlu diluruskan ini bukan candi tapi petirtaan. Ini yang harus pelan-pelan kita sosialisasikan,” ujar Andi Muhammad Said dilansir dari kanal YouTube Balai Pelestarian Budaya Wilayah XI.
Arkeolog Ismail Lutfi menjelaskan, Candi Tikus berada di cakupan Trowulan yang notabanenya dekat dengan Ibu Kota Mojokerto. “Masalah nama ikut masyarakat, dalam sejarah penemuannya yang sebelumnya area pertanian. Wajar jika banyak tikusnya, itu dari nama,” katanya.
Bagian yang istimewa dari petirtaan ini adalah adanya bangunan mirip menara-menara kecil di tengahnya. Menurutnya hal tersebut ada hubungannya dengan tradisi kuno yang dianggap suci. Yakni ritual. Fungsi penting dari pertitaan tersebut yakni untuk mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup di sekelilingnya.
“Itu fungsi yang relijius. Ada fungsi yang tidak terkait dengan agama semata yakni fungsi praktisnya. Karena ternyata dari hasil ekskavasi yang dilakukan memberikan infomasi kepada kita bahwa sumber air yang berasal dari bagian selatan candi ini masuk ke dalam candi, kemudian dari dalam candi dialirkan ke tempat lain,” jelasnya.
Air yang berasal dari dalam Candi Tikus dialirkan ke arah utara. Candi Tikus tidak hanya menampung air tapi juga dialirkan ke utara setelah disucikan. Menurutnya fungsi pensucian di Candi Tikus, lanjut Lutfi, mengandung fungsi kesuburan. Jika digunakan untuk pertanian maka mengandung makna kesuburan bagi petani.
“Pengelolaan sumber daya air tidak semata-mata hanya untuk mengumpulkan air kemudian menyalurkannya tapi juga ada kepentingan ekstetiknya juga. Denah bentuk pertirtaan dengan bangunan utama di tengah, ada kolam-kolam kecil di satu sudutnya. Itu memang menimbulkan tafsiran,” urainya.
Ada yang memberikan tafsiran, satu kolam digunakan untuk perempuan dan satu lainnya untuk laki-laki. Tapi secara arkeologi belum ada data terkait fungsi tersebut. Denah tersebut sama dengan Sumber Beji di Kabupaten Jombang. Ada dua pancuran air yang bisa diartikan untuk menampung air.
“Di Bali juga ada pola yang sama. Dari apa yang ada di lapangan, kita tidak menemukan pola baku jika pertirtaan harus mempunyai orientasi tertentu karena ini orientasinya utara-selatan. Di Sumber Beji timur-barat. Bangunan suci yang ada di tengah bisa diarahkan ke satu obyek orientasi yang utama, entah gunung, entah sesuatu yang dianggap paling suci,” jelasnya.
BACA JUGA:Pakar: Indonesia Butuh Transformational Leaders Pacu Inovasi
Tanah yang asli di Candi Tikus, menurut Lutfi, sudah jauh berada di dalam. Jika ada air di dalam kolam maka dibutuhkan ketinggian yang sama agar bisa keluar dari kolam. Tanah yang saat ini ada di sekitar Candi Tikus, menurutnya, sudah 2 meter di atas dari bibir kolam Candi Tikus.
“Permukaan tanah yang meninggi karena proses sendementasi. Ragam yang perlu diperhatikan yakni pertama, muncul pola padma. Padma adalah satu komponen bunga penting dalam masa Hindu-Budha, dia mempunyai makna filosifi. Kedua, ada perpaduan penggunaan bata dan batu,” lanjutnya.
Bagian untuk mengeluarkan air dari bahan batu andesit. Lutfi memprediksi selain lebih awet juga fungsinya lebih bagus secara estektis daripada bahan dari bata. Candi Tikus banyak dikaitkan dengan suatu gambaran dahulu jika orang mau ditasbihkan menjadi seorang Raja akan disucikan di Candi Tikus.
“Tapi apakah itu didukung dengan data yang kita miliki secara historis? Itu memang masing belum bisa dipertanggungjawabkan tapi memang dengan adanya tangga turun ke bawah, itu memberikan asosiasi ada prosesi untuk turun ke bawah. Iya (untuk kalangan istana), namun perlu dukungan data lain,” paparnya. (Tin/Aje)
![Candi Tikus Trowulan Mojokerto, Bangunan Petirtaan Majapahit Caption : Candi Tikus di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. [Foto : Misti/beritajatim.com]](https://beritajatim.com/wp-content/uploads/2023/11/IMG-20231122-WA0000.jpg)







