Jombang (beritajatim.com) – Bulan Ramadhan membawa nuansa spiritual yang mendalam bagi santri Pondok Pesantren (Ponpes) At Tahzhib di Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.
Didirikan oleh Romo KH Ihsan Mahin pada tahun 1964, pesantren ini menghadirkan suasana khusyuk sepanjang bulan suci, di mana santri tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga ditempa dengan keterampilan wirausaha sebagai bekal masa depan.
Sejak pagi hingga malam, lantunan ayat suci Alquran menggema di seluruh sudut pondok. Santri usia anak-anak dibiasakan menghafal surat-surat pendek, sebuah tradisi yang terus dijaga. “Biasanya mengaji dilakukan sore hari, tetapi selama Ramadhan kami mengadakannya sejak pagi,” ujar Ni’ Mah, salah satu pengasuh pondok.
Lebih dari sekadar hafalan, santri juga mendalami kajian kitab kuning. KH Ahmad Masruh, pengasuh Ponpes At Tahzhib, menyebutkan bahwa selama bulan Ramadhan, kegiatan mengaji menjadi lebih intensif. “Kami mengaji dari subuh hingga pukul 23.00 WIB, dengan jeda untuk salat. Ada sekitar 40 kitab kuning yang kami pelajari selama Ramadhan,” ungkapnya, Rabu (5/3/2025).
Namun, keistimewaan Ponpes At Tahzhib tidak hanya pada pendidikan agama. Para santri juga dibekali keterampilan wirausaha, salah satunya budidaya ikan bawal dan patin. Di sela waktu mengaji, mereka mempelajari teknik pembenihan ikan dengan metode khusus, seperti memilih indukan berkualitas dan melakukan pemijahan alami.
“Kami memilih indukan yang berusia lebih dari lima tahun, lalu melakukan suntik hormon untuk mempercepat pemijahan,” jelas KH Masruh.
Setelah bertelur, telur-telur ikan dipindahkan ke kolam fiber berkapasitas 1.200 liter dengan aerator untuk memastikan pasokan oksigen cukup. Dalam 25 jam, telur menetas, menghasilkan sekitar 50 ribu larva ikan bawal yang siap dibesarkan.
Dalam satu setengah bulan, ikan bawal siap panen dengan rata-rata berat 0,5 kg per ekor. Dengan harga jual sekitar Rp17 ribu per kilogram, hasil panen dari kolam seluas 2.000 meter persegi bisa mencapai 10 ton. Pemasarannya mencakup Surabaya, Mojokerto, dan berbagai wilayah lain.
Meski telah sukses, budidaya ikan di Ponpes At Tahzhib menghadapi tantangan, terutama saat musim kemarau yang membuat pemijahan lebih sulit. Namun, KH Masruh dan tim terus berinovasi agar sektor ini berkembang.
“Kami bersyukur bisa mengawinkan ikan bawal secara alami, dan ini satu-satunya di Jawa Timur. Potensi perikanan di daerah ini sangat besar, terutama dengan aliran Sungai Brantas dan Sungai Konto dari Waduk Selorejo,” jelasnya.
Dengan pendidikan agama yang kuat dan keterampilan wirausaha yang mumpuni, santri Ponpes At Tahzhib menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk mengasah ilmu dan membangun masa depan yang lebih cerah. [suf]






