Malang (beritajatim.com) – Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3, Tri Rismaharini (Risma), berkomitmen untuk memuliakan dan menyejahterakan kaum santri dan ulama. Hal ini disampaikannya dalam kampanye tatap muka di Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Kamis (3/10/2024), saat bersilaturahmi dengan Kiai Kampung Ahlusunnah Waljama’ah se-Malang Raya.
Dalam pertemuan tersebut, Risma tak kuasa menahan haru saat bertatap muka dengan para ustaz dan ustazah. Sosok Menteri Sosial itu terlihat berkaca-kaca ketika berjumpa dengan Kiai Kampung di wilayah Malang Selatan.
“Insya Allah, saya tidak akan mengecewakan para Bu Nyai, Pak Yai, dan Gus yang hadir. Saya sendiri cucu Mbah Kiai Yasin Saleh Blauran, Surabaya,” ungkap Risma.
Mbah Yasin Saleh, menurut Risma, adalah ulama yang memimpin pertempuran bersama ribuan santri saat Agresi Militer Belanda ke-2 dan Pertempuran 10 November di Surabaya. Keberanian sang kakek inilah yang menjadi inspirasi Risma dalam karirnya sebagai pejabat negara, mulai dari ketegasannya sebagai Menteri Sosial hingga keberhasilannya menutup lokalisasi Dolly saat menjabat Wali Kota Surabaya.
Risma berharap, jika terpilih sebagai Gubernur Jawa Timur, ia dapat mengumpulkan keluarga santri dan pondok pesantren untuk bersama-sama membangun Jawa Timur yang adil dan makmur.
“Kita ingin mengumpulkan cerita kakek buyut kita yang turut berperang melawan penjajah. Karena Gus Kikin juga mencari hal yang sama. Anak-anak jalanan juga butuh pendidikan di pesantren agar mereka tidak terus berada di jalanan,” jelasnya.
Ia menegaskan, program pemerintahannya akan fokus memperhatikan pesantren dan para ustaz-ustazah dengan anggaran yang sudah diperhitungkan. “Asalkan uangnya tidak disalahgunakan, insya Allah cukup,” tegas Risma.
Selain itu, Risma juga menyebutkan pentingnya menghormati dan merawat Kiai Kampung yang memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa. “Kakek saya masih saudara dengan Kiai Hasyim Asyari, dan saya berjanji akan menepati janji almarhum bapak dan kakek saya untuk memperhatikan para pejuang, termasuk ulama dan santri,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Risma menegaskan peran penting santri dan ulama dalam perjuangan Surabaya. “Para kiai juga ikut berjuang, dan saya ingin menghormati mereka seperti saya menghormati para veteran perang,” pungkasnya. [yog/beq]






