Ponorogo (Beritajatim.com) – Dalam rangka kampanye Pilkada Ponorogo 2024, Calon Bupati (Cabup) nomor urut 1, Ipong Muchlissoni memiliki cara unik untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Ia memilih untuk ngopi dari warung ke warung, sebagai metode sosialisasi sekaligus menyerap aspirasi warga.
Dengan suasana santai dan penuh keakraban, Ipong menyempatkan diri mampir ke sejumlah warung kopi. Salah satunyadi sekitar Kelurahan Kadipaten dan Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan. Tidak memakai kendaraan bermotor, Ipong menuju warung-warung itu, dengan memakai sepeda angin.
“Olahraga sepedahan kan juga perlu ngopi dan menyapa warga. Kebetulan ketika saya ngopi di warung, menjadi ramai,” ungkap Ipong, ditulis Jumat (27/09/2024).
Menurutnya, ngopi bersama warga adalah cara yang efektif untuk mendengar langsung harapan dan keluhan masyarakat. Warung kopi ini bukan sekadar tempat ngopi, tapi juga ruang diskusi dan tempat mendengar aspirasi masyarakat. Ia pun juga bisa langsung menyerap apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Di setiap warung yang ia kunjungi, Ipong tidak hanya berbincang soal keseharian, tapi juga mendengarkan berbagai masukan terkait pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, hingga keluhan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Melalui obrolan santai sambil ngopi, Ipong bisa lebih leluasa memahami apa yang menjadi prioritas warga Ponorogo.
“Saat ngopi bersama ini, saya lebih mudah mendengar apa yang masyarakat inginkan. Saya bisa lebih menyelami dan mendalami. Sehingga ketika saya nanti jadi bupati, saya bisa merumuskan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada warga,” katanya.
Ipong menambahkan bahwa dirinya juga sempat ngopi di dekat jembatan gantung yang menghubungkan Kelurahan Cokromenggalan dan Desa Cekok. Saat Ia mengobrol, warga mengungkapkan bahwa manfaatnya luarbiasa. Mulai arus lalu lintas yang meningkat semenjak adanya jembatan tersebut.
” Ini merupakan contoh manfaat oleh adanya infrastruktur. Maka program utama kita jadi bupati, nomor 1 ya infrastruktur,” pungkas Ipong. (end/ian)







1 Komentar
Jargonnya kok *NDANDANI PONOROGO.*.
Lhah Ponorogo tuh sing russk apane lho Mas Ipong.
Menurut saya, diksinya tuh merendahkan masyarakat Ponorogo. Soale, namanya membangun (Ponorogo) tu tanggung jawab bareng2 antara pemerintah bersama masyarakat. Lha Ponorogo didandani ki berarti kan rusak, trus Ponorogo rusak ki kan menggambarkan wong Ponorogo ki gobloke nemen. Jadi diksi jargonnya kan bisa saja dimaknai gitu.