Jakarta (beritajatim.com) – Budayawan Butet Kertaradjasa menilai, pemilihan presiden 2024 mendatang akan menarik. Apalagi jika putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka menjadi bakal calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.
Hal ini dikatakan Butet saat kongkow bareng budayawan dan seniman bersama generasi z dan milenial di Kawasan M Blok, Jakarta. Hadir dalam meet and greet tersebut, Butet Kertaradjasa, Goenawan Muhammad, Cak Lontong, Abdel Achrian, Denny Chandra, Akbar Kobar, Adjis Doaibu dan sejumlah pekerja seni lainnya. Nampak pula politisi PDI Perjuangan Ario Bimo.
Butet membayangkan, digelar debat antar capres dan cawapres. “Bakal apik banget. Itu perdebatan yang paling keren. Profesor (Mahfud, red) lawan anak muda yang pengalamannya baru dua tahun di kepala daerah,” ujar Butet.
Dalam kesempatan itu, Butet yakin, Mahfud sebagai Cawapres tak hanya jadi boneka dan ban serep. “Saya yakin, kalau Pak Mahfud jadi Wapres, jelas bukan ban serep apalagi boneka,” tuturnya.
Dalam acara kongkow tersebut, Mahfud MD lebih banyak ditanya soal keadilan dan penegakan hukum. Menurutnya, soal hukum bisa didekati dengan tiga pendekatan. Yakni secara konseptual atau isi aturan, aparat, hingga budayanya.
BACA JUGA:
Soal Gibran Jadi Cawapres Prabowo, Ahmad Basarah: Gak Kaget Biasa Saja
Bagi Mahfud, secara isi aturan gampang diperbaiki. Yang jadi fokus adalah aparat penegak hukum dan birokrasi serta budayanya. Sebab, di semua level, sudah rusak dan sering terjadi mafia. Marak proses transaksi gelap dan KKN di level ini.
Level ini juga amat krusial dalam pengembangan investasi di dunia ekonomi kreatif. Maka kebijakannya, di level atas harus dilakukan penegakan kepastian dalam izin proses invetasi. “Karena yang sering terjadi, terjadi tumpang tindih terjadi kisruh. Ditambah hukumnya tumpul karena menyangkut orang kuat dan pejabat. Nah, yang ke bawah, rakyat kecil, harus diberi perlindungan,” pungkasnya. [hen/but]






