Mojokerto (beritajatim.com) – Untuk mewujudkan ketahanan keluarga bagi masa depan remaja, pemerintah membentuk Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Yakni dengan menjalankan program Generasi Berencana (Genre) yang memanfaatkan hubungan sebaya menjadi pendidik sebaya dan ada konselor sebaya.
Hal tersebut disampaikan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati saat membuka webinar bagi pembina pengelolaan PIK-R untuk mengelola dan membina para remaja di lingkungan sekolah dalam merencanakan kehidupan keluarga atau ketahanan keluarga. Webinar digelar di ruang Command Center, Kabupaten Mojokerto secara daring dan luring.
Bupati Mojokerto, Ikfina Fahmawati mengatakan, untuk mewujudkan ketahanan keluarga bagi masa depan remaja, maka pemerintah membentuk PIK-R. Yakni dengan menjalankan program Generasi Berencana (Genre) yang memanfaatkan hubungan sebaya menjadi pendidik sebaya dan ada konselor sebaya.
“Disinilah program Genre ini dijalankan, dan prinsipnya adalah dengan memanfaatkan hubungan kesebayaan, maka yang aktif bukan pembina PIK-R tetapi pendidik sebaya dan konselor sebaya yang nanti akan menyampaikan informasi pengetahuan dan mengasah skill bersama teman-temannya,” ungkapnya, Rabu (15/2/2023).
Sehingga, lanjut orang nomor satu di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto, pembina PIK-R yang nanti berhadapan dengan pendidikan sebaya dan konselor sebaya. Selain untuk mewujudkan ketahanan keluarga yang bagus, Bupati perempuan pertama di Kabupaten Mojokerto menilai, para remaja harus memiliki banyak skill dan pengetahuan untuk masa depannya.
“Maka mereka bisa mewujudkan ketahanan yang kuat dan untuk menuju itu, kita menyiapkan anak-anak kita untuk menuju kehidupan berkeluarga. Saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah yang sangat luar biasa terkait stunting. Bayi-bayi yang lahir stunting ini ternyata hampir sebagaian besar adalah penyebabnya dari ibu-ibu yang belum cukup umur,” bebernya.
Bupati menjelaskan, jika permasalahan stunting menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan. Karena pada saat dewasa berdampak pada tingkat kecerdasannya di bawah standar sebesar 20 persen. Untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, diharapkan para pembina PIK-R bisa menjamin SDM dengan standar kecerdasan normal.
“Apa jadinya negara kita kalau kita tidak bisa mengendalikan stunting, maka masa depan negara ini banyak SDM-SDM dengan kecerdasan 20 persen di bawah standar, padahal kita tidak tahu masa depan seperti apa yang akan dihadapi anak-anak kita. Sehingga papun yang terjadi, mereka akan bisa survive dengan kecerdasan normal tersebut,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”mojokerto”]
Sehingga PIK-R diharapkan tidak hanya sekedar melaksanakan program dari pemerintah pusat untuk dilakukan, tetapi lebih jauh dan lebih dalam. Webinar tersebut diikuti sedikitnya 257 pembina yang terdiri dari guru SMP-SMA Sederajat serta koordinator se-Kabupaten Mojokerto.
Para pembina tersebut kedepannya akan ditugaskan untuk membina para remaja agar terhindar dari resiko masalah. Seperti perilaku seks bebas pada remaja, kehamilan dan kelahiran pada remaja, pernikahan dini, HIV Aids dan Napza dalam menyiapkan masa depan para remaja serta untuk merencanakan kehidupan keluarga atau ketahanan keluarga. [tin/but]






