Jember (beritajatim.com) – Sejak dilantik menjadi bupati Jember, Jawa Timur, pada 26 Februari 2021, Hendy Siswanto menyatakan sudah mengerjakan semua visi dan misi politiknya dalam pemerintahan. Namun dua mengakui adanya kekurangan.
“Visi misi kami semua tercapai. Tentang volumenya kurang besar, iya. Tapi seluruh poin sudah kami kerjakan,” kata Hendy, Selasa (6/8/2024).
Hendy mengingatkan, masa jabatannya praktis hanya berjalan 2,5 tahun. Satu tahun masa awal pemerintahan, ia disibukkan dengan penanganan pandemi Covid-19. Alokasi anggaran dikonsentrasikan untuk penanganan tersebut. “Satu tahun pertama saya hanya mengurusi Covid. Efektif hanya 2,5 tahun bekerja sebagai bupati,” katanya.
Sejumlah capaian sudah terlihat. “Saat ini sudah bisa kita rasakan, pembangunan infrastruktur yang sangat menyeluruh, jalan-jalan yang sudah kita bangun cukup panjang yakni ribuan kilometer, pemasangan penerangan jalan umum, pertanian kami gencarkan, pupuk organik gratis kita berikan,” kata Hendy.
Seluruh capaian Pemkab Jember sejak 2021 tercermin dari tingkatr pertumbuhan ekonomi daerah. “Pertumbuhan ekonomi kita bagus, 4,53 persen saat ini. Ini sesuatu yang menyenangkan. Hasil dari infrastruktur yang kami bangun pada 2022 dan 2023 bisa dirasakan sekarang,” kata Hendy.
Angka kemiskinan Kabupaten Jember juga turun berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Jumlah penduduk miskin di Jember berkurang dari 257.090 jiwa pada Maret 2021 menjadi 224.770 pada Maret 2024. “Dibandingkan tahun 2021, persentase kemiskinan turun dari 10,41 persen menjadi 9,01 persen. Ini angka yang cukup bagus,” kata Hendy.
BPS menilai indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan pada 2024 semakin menurun. Ini mengindikasikan upaya penanganan kemiskinan berhasil.
“Namun karena jumlah warga Jember cukup besar, angkanya cukup besar, meskipun persentasenya sudah satu digit. Persentase kemiskinan kita berada di bawah Jawa Timur dan nasional,” kata Hendy.
Turunnya jumlah warga miskin ini, menurut Hendy, tak lepas dari penguatan usaha mikro kecil menengah, termasuk ekonomi kreatif. “Kalau kita mengharapkan investasi, investasi baru bisa dirasakan dua tiga sampai empat atau lima tahun ke depan setelah investasi masuk. Tidak serta-merta mengurangi kemiskinan. Tapi hasil produk dari investasi itu dirasakan tiga sampai lima tahun kemudian,” katanya.
Pemkab Jember juga membuka lapangan kerja. “Ribuan lapangan kerja kami buka dengan merangkul stakeholder, perusahaan-perusahaan besar, sampai 4.500 tenaga kerja. Setahun dua kali kami mengadakan job fair,” kata Hendy.
Selain itu, Pemkab Jember juga menggelar banyak acara atau event besar. “Event Jember Fashion Carnaval, misalnya,hampir ada satu juta orang pengunjung memadati Jember selama tiga hari. Tentu ini kekuatan pergerakan ekonomi. Semakin banyak orang berkumpul, tentu jadi transaksi ekonomi di sana,” kata Hendy.
Hendy menerbitkan surat instruksi kepada camat dan kepala desa untuk menggelar eventt yang di wilayah masing-masing. “Dengan event apapun, pengajian, salawatan, maupun event lainnya, apalagi sekarang 17 Agustus (peringatan HUT RI), akan berdampak sangat besar dalam pengembangan ekonomi kreatif di Jember,” katanya. [wir]






