Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto dan keluarganya resmi dikukuhkan menjadi kader PDI Perjuangan dalam acara konsolidasi akbar, di Seven Dream City, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam Rabu (28/8/2024).
Pengukuhan dilakukan Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Arif Wibowo dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Jember Widarto, di hadapan ribuan massa kader partai itu. Prosesi itu diawali dengan penyerahan kartu tanda anggota PDI Perjuangan.kepada Hendy.
Hendy kemudian melepas kemeja hitamnya dan menggantinya dengan kemeja warna merah. Prosesi ini disambut tepuk tangan dan pekik ‘merdeka’ oleh ribuan kader dan pengurus PDI Perjuangan Jember dari berbagai level.
Dalam orasinya, Hendy ingin berjuang habis-habisan bersama PDI Perjuangan. “Itulah mengapa kami mengajak istri dan anak kami menjadi bagian dari keluarga besar PDI Perjuangan. Keluarga, terutama istri, tidak boleh kita lupakan dalam perjuangan ini,” katanya.
Hendy mengaku ingin menunjukkan komitmen menyeluruh kepada PDI Perjuangan. “Kami tunjukkan menjadi PDI Perjuangan yang kaffah, kami ajak istri satu-satunya dan anak-anak saya kemari untuk bersama-sama dengan sahabat-sahabat tercinta ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Hendy mengutip pernyataan Presiden Soekarno. “Laki-laki dan perempuan adalah dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya ; Jika patah satu daripada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali,” katanya.
Sebelumnya, Hendy adalah anggota Partai Nasional Demokrat. Hendy mantap memilih PDI Perjuangan karena sejarah panjang partai tersebut. “Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan telah menjadi simbol perjuangan demokrasi bangsa yang sama sama kita cintai ini,” katanya, usai acara.
Menurut Hendy, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini tidak terlepas dari sosok Bapak Bangsa, yaitu presiden Pertama Republik Indoenesia, Soekarno, yang telah menjadi simbol perjuangan kemerdekaan dan pembangun fondasi bangsa ini.
“Di bawah bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kita tidak hanya mengenang Soekarno sebagai sosok historis, tetapi kita juga meneruskan perjuangan dan pemikirannya dalam setiap langkah politik kita. Ide-ide besar yang ia tanamkan, seperti Pancasila sebagai dasar negara, Trisakti sebagai prinsip kedaulatan bangsa, serta semangat gotong royong, menjadi pilar utama perjuangan kita di PDI Perjuangan,” kata Hendy.
Hendy mengajak semua kader PDI Peruangan untuk mengingat dan merenungkan kembali makna perjuangan rakyat kecil yang dikenal dengan sebutan Kaum Marhaen.
“Kaum Marhaen atau wong cilik adalah simbol dari rakyat kecil yang hidup sederhana, berjuang dengan gigih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, namun sering kali, terpinggirkan dalam arus pembangunan,” katanya.
“Kaum Marhaen adalah tulang punggung bangsa ini. Mereka adalah petani yang mencangkul tanah untuk memberi makan kita, buruh yang bekerja keras demi kelangsungan roda perekonomian, dan rakyat biasa yang menghidupi keluarga dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka adalah pejuang sejati yang senantiasa berusaha, meski sering kali terpinggirkan dari perhatian,” tambah Hendy.
Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, menurut Hendy, tantangan yang dihadapi wong cilik juga semakin kompleks. “Namun, semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam Marhaenisme tetap relevan dan menjadi panduan bagi kita semua,” katanya.
Hendy mengajak kader PDI Perjuangan berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak kaum Marhaen, untuk memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
“Mari kita teruskan perjuangan Bung Karno dengan semangat yang membara, memastikan bahwa Indonesia tetap tegak sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat, seperti yang beliau cita-citakan. Semoga dengan semangat dan kerja keras kita bersama, PDIP dapat terus menjadi pelopor dalam mewujudkan Jember yang adil,” kata Hendy. [wir]






