Jember (beritajatim.com) – Program Bunga Desaku atau Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan yang dilaksanakan Bupati Muhammad Fawait di Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata terinspirasi dari Kabupaten Banyuwangi.
Hal ini diakui sendiri oleh Fawait, saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2027, di Pendapa Wahyawibawagraha, Senin (9/3/2026).
“Jujur, saya terinspirasi dari Kabupaten Banyuwangi. Cuma di Banyuwangi ada Bunga Desa, di Jember Bunga Desaku. Biar tidak dianggap plagiat kita kan? Kan begitu kalau nulis tesis, skripsi, disertasi, harus ada bedanya sedikit,” kata Fawait, tersenyum lebar.
Melalui Bunga Desaku, Bupati Fawait bertemu dengan masyarakat untuk memperoleh masukan. “Sebuah kebijakan bagus, kalau perencanaannya baik. Maka di dalam perencanaan, kita harus mendapatkan input-input yang besar,” katanya.
Selain Bunga Desaku, Fawait memiliki program ‘Guse Menyapa’. “Kita sesekali mengumpulkan seribu, dua ribu, lima ribu orang. Langsung kita tanyakan kepada masyarakat, apa yang mau diusulkan kepada pemerintah,” kata Fawait.
Saat bertemu warga langsung, Fawait juga menanyakan pengetahuan mereka soal program-program pemerintah. “Kalau belum tahu, kita sosialisasikan masing-masing program Pemkab, sekaligus menanyalan apa usul dari masyarakat,” katanya.
“Jadi bukan perwakilan masyarakat lagi, tapi masyarakat langsung kita mintai usul. Kita melibatkan masyarakat untuk memberikan input di dalam proses perencanaan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jember. Pulangnya kita kasih sembako,” kata Fawait.
Pemberian sembako merupakan tindaklanjut pertemuan dengan Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi.
“Di dalam jangka panjang, kami sudah berdiskusi dengan BI dan BPS dalam acara Bunga Desaku di Kecamatan Sukorambi, bahwa salah satu tools untuk operasi pasar, pengendalian inflasi, dan pengentasan kemiskinan, kita memberikan souvenir setiap turun. Souvenir-nya adalah sembako,” kata Fawait. [wir]






