Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto setuju dengan usulan penutupan sementara pasar hewan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk mencegah penyebaran wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menimpa ternak sapi.
“Memang kami kemarin mau menutup pasar hewan sebelum Iduladha. Tapi kami memutuskan setelah Iduladha. Alhamdulillah sekarang naiknya (jumlah sapi yang tertular) mulai sedikit,” kata Bupati Hendy Siswanto, usai sidang paripurna di DPRD Jember, Senin (18/7/2022).
Sebelumnya, Nurhasan, legislator Partai Keadilan Sejahtera, menyampaikan usulan penutupan tersebut da;am dalam sidang paripurna di parlemen. “Peternak sapi meminta agar pasar hewan sementara ditutup dulu, karena masyarakat sudah bisa menilai bahwa yang mempercepat penularan PMK adalah blantik-blantik (pedagang hewan) yang sering turun ke kandang-kandang. Setiap kandang yang didatangi blantik, sapinya kena PMK. Jadi saya mohon ada ketegasan seperti Kabupaten Lumajang: pasar hewan ditutup sementara,” katanya.
Nyoman Aribowo, legislator Partai Amanat Nasional (PAN), mengaku mendapat banyak keluhan dari masyarakat desa. “Sapi mereka bergelimpangan. Kami ikut pusing luar biasa,” katanya.
Komisi B DPRD Jember sudah bertemu dengan Dinas Peternakan dan Ketahanan Provinsi Jawa Timur pekan lalu untuk berkonsultasi soal penangana wabah PMK ini. “Yang perlu segera dilakukan adalah penyaluran BTT (Belanja Tak Terduga). Surat Keputusan Bupati (soal kedaruratan bencana) saya dengar sudah,” kata Nyoman.
Nyoman mengatakan, para peternak membutuhkan waktu lama untuk mengobati sapi-sapi yang terkena PMK. Pemprov pun mengucurkan dana bantuan tunai untuk peternak yang terdampak. “Karena mereka mengobati sendiri dalam durasi panjang. Begitu mereka tidak mampu, kolaps, sapinya mati,” katanya.
Nyoman berharap ada kebijakan bantuan tunai untuk peternak terdampak. “Ini sudah sangat parah dan kemampuan finansial untuk mengobati juga kurang. Kami mohon, selain kecepatan penyaluran, BTT disertai bantuan tunai untuk peternak,” katanya. [wir/ted]






