Jember (beritajatim.com) – Bupati Muhammad Fawait terkejut saat ada orang di Jakarta yang menyebut Jember Fashion Carnaval (JFC) adalah kegiatan yang meniru kegiatan serupa di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
“Saya pernah dikatakan: JFC itu di Jakarta meniru event di Banyuwangi. Jleb,” kata Fawait, di hadapan puluhan pengusaha, akademisi, dan pelaku sektor pariwisata, dalam acara ramah tamah, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kamis (25/9/2025).
Tidak terima, Fawait pun protes. “Lha kok bisa? Tidak bisa. JFC ini sudah mendunia. JFC ini ikonnya Jember,” katanya.
Dari sana, Fawait menyadari, bahwa telah terjadi pergeseran citra kemajuan daerah dari Jember ke Banyuwangi. “Lima belas tahun lalu, semua kegiatan yang berkaitan dengan pemerintah pusat ada di Kabupaten Jember. Lima belas tahun lalu, semua orang tahunya Jember. Tapi hari ini, sudah bergeser, dan kita harus sadar,” katanya.
“Sepuluh lima belas tahun yang lalu kita adalah pemimpin di ujung timur pulau Jawa. Hari ini kita agak sedikit kaget. Sektor wisata kita agak di-voor oleh kabupaten tetangga kita sebelah timur. Sebelah barat juga sudah mulai berkembamg,” kata Fawait.
“Walau pun hari ini wisata kita menyumbangkan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sangat kecil, kalau dibiarkan tambah hancur lebur. Sedangkan jumlah penduduk Kabupaten Jember 2,6-2,7 juta,” kata Fawait.
Fawait sempat mendapatkan informasi dari Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, bahwa 60 persen pengunjung wisata Pasir Putih adalah warga Jember. “Saya yakin di kabupaten sebelah barat dan timur juga, orang KTP Jember. Jangankan orang lain, wong orang Jember saja berwisata ke luar Jember,” katanya.
Fawait mengajak semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama. “Termasuk kampus yang luar biasa di Jember, semua lembaga vertikal. Tidak ada yang tidak bisa kita diskusikan selama itu untuk kemajuan Kabupaten Jember,” katanya.
Fawait juga meminta kepada pemangku kepentingan untuk mengadu kepadanya jika ada proses administratif yang dipersulit. “Bilang saya. Apalagi investasi,” katanya.
Menurut Fawait, Jember memiliki masalah yang belum terselesaikan selama sepuluh tahun terakhir, yakni kemiskinan. “Kita tidak bisa bekerja sendiri, apalagi hanya mengandalkan APBD Kabupaten Jember. Sangat terbatas. Untuk mengatasi itu, salah satunya mendatangkan investor dan mengembangkan beberapa sektor, antara lain wisata dan sebagainya,” katanya. [wir]






