Jember (beritajatim.com) – Peristiwa tragis bunuh diri yang dilakukan ibu dan anak mengguncang Kabupaten Jember, Jawa Timur, dua kali dalam jangka waktu sembilan hari, yakni di Kecamatan Silo dan Kecamatan Patrang.
Peristiwa pertama terjadi di Dusun Sumber Lanas Barat RT 01 RW 18, Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, Jumat (9/6/2023) dini hari. Seorang perempuan berinisial M (40) mencoba bunuh diri setelah menggorok leher anak perempuannya yang bernama enam tahun.
Sang anak perempuan meninggal dunia. Sementara M dilarikan ke Rumah Sakit dr. Soebandi Jember dalam kondisi kritis. Saat ini ia sudah melewati masa kritisnya dan dirawat di Ruang Tulip yang disediakan khusus untuk perawatan jiwa. “Fisiknya stabil. Kondisinya baik. Dia ditangani dokter spesialis psikiatri,” kata Pelaksana Tugas Direktur RSD dr. Soebandi Lilik Lailiyah, Minggu (18/6/2023).
M adalah istri Saleh. Menurut penuturan Mulyono, salah satu tokoh masyarakat yang juga tetangga korban, semula sang anak perempuan tidur bersama Saleh. “Sekitar jam 10 malam, N dipindah ke kamar belakang oleh ibunya dan tidur berdua,” kata Mulyono.
Sekitar pukul dua, Jumat (9/6/2023) dini hari, Saleh terbangun dan mendengar suara aneh dari kamar belakang. Ia mendengar suara seperti orang mendengkur. Suara itu bukan layaknya dengkuran orang tidur, namun seperti suara ngorok leher yang disembelih.
Saleh buru-buru membuka pintu. Terkunci. Dengan perasaan berdebar-debar, dia mendobrak pintu itu, dan melihat istri dan dan anak bungsunya sudah tergeletak bersimbah darah. Sang anak ditutupi selimut di atas tempat tidur dengan bagian kepala dan leher terluka.
Peristiwa kedua terjadi di Jalan Kepodang II, Lingkungan Krajan, Dusun Krajan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Sabtu (17/6/2023) dini hari. Khusnul Khotimah (31) bersama dua orang anaknya yang masing-masing berusia tujuh tahun dan delapan bulan ditemukan mati mengenaskan di rumahnya.
Khotimah mati dalam.keadaan leher terikat tali dan tubuh menggantung di kusen pintu kamar. Sementara dua anaknya teletang di kasur dalam keadaan tak bernyawa. Ada bekas jeratan pada leher anak pertama dan bekas pukulan benda tumpul pada anak ketiga. Luka lebam terlihat pada bagian punggung luar.
Berdasarkan keterangan tetangga, tak ada persoalan rumah tangga yang berpotensi memicu peristiwa tersebut. Menurut Mulyono, selama ini pasangan Saleh dan M harmonis. Tak pernah ada pertengkaran hebat yang diakibatkan oleh faktor ekonomi atau perselingkuhan.
Saleh adalah petani kopi di Silo. “Sebentar lagi panen. Secara ekonomi, kehidupan mereka lumayan bagus. Kehidupan mereka lurus-lurus saja,” kata Mulyono.
Pasangan Agus Riyadi (36) dan Khusnul Khotimah (31) di Patrang juga dikenal baik-baik saja. Khotimah tak pernah terlihat bertengkar dengan sang suami yang sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan makanan.
Khotimah pendiam dan susah bergaul. Sebelum mati dengan tragis, dia sempat membantu suaminya menyiapkan makanan yang akan dijual. “Kalau pagi berjualan di sekitar sekolah. Kalau malam berkeliling berjualan telur gulung dan pentol. Istrinya sebelum magrib (Jumat, 16/6/2023), masih membantu mengeluarkan saos dan menyiapkan yang mau dijual. Suaminya menggoreng pentol yang mau dijual. Si suami berangkat setelah magrib,” kata Sumardiyono, Kepala Lingkungan Krajan.
Satu-satunya kesamaan antara M dan Khotimah adalah gangguan kejiwaan. “M sering mengalami gangguan jin,” kata Mulyono.
Begitu juga Khotimah. Kepala Kepolisian Resor Jember Ajun Komisaris Besar Moch. Nurhidayat mengatakan, Khotimah mengalami halusinasi, mendapatkan bisikan-bisikan tidak jelas. “Bisikan tanpa wujud, dalam hal ini bisikan gaib,” kata mantan kepala Kepolisian Resor Jombang ini.
Perempuan asal Kecamatan Ajung itu sempat dua kali mencoba mengajak sang anak bunuh diri di Sungai Jompo dan Bedadung, serta menenggelamkan sang anak yang masih bayi dalam bak berisi air. “Untung berhasil dicegah,” kata Muhammad Ilyas, tokoh masyarakat Krajan Bintoro.
Khotimah juga sering mendadak pergi dari rumah dalam jangka waktu lama. “Bisa berbulan-bulan, lalu kembali sendiri,” kata Ilyas.
Ternyata perilaku ganjil Khotimah ini menurun pada anak pertamanya yang berkelamin perempuan, LA. LA sering kali kabur dari rumah dan tergolong hiperaktif. “Saya pernah menemukannya bermain telanjang bulat dari sungai dan berada di dekat masjid. Lalu saya amankan dan umumkan ke warga sebelum saya bawa ke Dinas Sosial. Beberapa saat kemudian orangtua si anak ini datang,” kata Susianto, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Patrang.
Ada perbedaan penanganan keluarga terhadap dua perempuan tersebut. Keluarga M lebih suka membawanya ke paranormal. “Keluarga tidak mau disebut gangguan jiwa, tapi kesurupan. Keluarga marah kalau disebut gangguan jiwa. Jadi pendekatannya harus persuasif,” kata Kepala Dinas Sosial Jember Akhmad Helmi Luqman.
Sementara itu, Khotimah menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Daerah dr, Soebandi Jember. Namun pengobatannya terhenti sejak Mei 2023 lalu. “Dia berhenti minum obat karena menyusui,” kata Helmi.
Pemerintah Kabupaten Jember sebenarnya mempunyai pelayanan gratis untuk kesehatan jiwa di setiap puskesmas. “Tidak mungkin rumah sakit menjangkau sampai ke desa-desa. Obat di puskesmas gratis,” kata Helmi.
Pelayanan kesehatan di Jember saat ini gratis bagi warga tak mampu dengan program J-Pasti Keren (Pelayanan Kesehatan Gratis Khusus Penduduk Jember yang Efektif dan Efisien). Dinsos bersama Dinas Kesehatan akan menyosialisasikan pelayanan gratis untuk kesehatan jiwa ini kepada masyarakat.
“Kami dorong masyarakat mau terbuka dan tidak malu-malu melaporkan bila ada anggota keluarganya yang mengalami permasalahan kejiwaan. Seringkali keluarga malu menyampaikan. Penyakit jiwa bukan aib tapi penyakit yang harus disembuhkan,” kata Helmi. [wir]






