Bondowoso (beritajatim.com) – Target penyerapan beras oleh Perum Bulog Cabang Bondowoso tahun ini mencapai 25 ribu ton. Namun hingga akhir April 2025, capaian serapan masih 10 ribu ton.
Dengan sisa waktu yang terus menipis dan potensi panen yang sangat besar, upaya akselerasi kini berpacu dengan waktu dan keterbatasan infrastruktur.
Kepala Bulog Cabang Bondowoso, Hesty Retno Kusumastuti, menyatakan bahwa pihaknya tetap optimistis bisa memenuhi target serapan tahun ini.
Ia menjelaskan bahwa hingga April, Bulog telah menyerap 10 ribu ton gabah dari petani, dan dalam waktu dekat, diprediksi akan ada panen gabah hingga 64 ribu ton.
“Kami optimistis bisa mencapai 100 persen target serapan. Dengan kolaborasi antara Bulog, Kodim, dan Pemerintah Daerah, kami yakin ini bisa terealisasi secara optimal,” ujar Hesty.
Bulog sendiri telah menggandeng 13 mitra makool untuk menyerap gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Selain itu, ada 28 mitra besar yang siap memasok beras ke Bulog dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp12 ribu per kilogram.
Namun, di lapangan, serapan yang masih jauh dari target menimbulkan tanda tanya dan kritik. Ketua Komisi II DPRD Bondowoso, Tohari, menyebut bahwa serapan Bulog semestinya sudah mendekati 25 ribu ton pada April.
“Konsletnya di mana? Ini yang harus kita cari solusinya,” tegas legislator PKB tersebut.
Menurut Tohari, berdasarkan Inpres Nomor 6 Tahun 2025, Bulog seharusnya membeli GKP langsung dari sawah dengan harga Rp6.500.
Namun, petani merasa sulit menjual gabahnya ke Bulog, terutama saat momentum penting seperti 10 hari sebelum Ramadan dan 10 hari setelah Idulfitri.
“Bulog sudah punya 28 mitra besar dan 13 makool, tapi kenapa serapan tetap minim? Salah satunya karena Bulog tidak punya penggilingan sendiri, tidak punya dryer sendiri, dan tidak punya lantai jemur,” ungkap Tohari.
Ia menyoroti bahwa Pemkab Bondowoso memiliki aset resi gudang yang saat ini tidak dimanfaatkan. Tohari mengusulkan agar aset tersebut bisa dioperasikan oleh BUMD atau dipinjamkan ke Bulog untuk mendukung optimalisasi serapan gabah.
Sementara itu, Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Arh Achmad Yani, menyebut bahwa keterlibatan TNI dalam ketahanan pangan dilakukan sejak dari fase penanaman.
Target penanaman seluas 103 ribu hektar disebutnya akan berdampak langsung terhadap potensi panen. Namun, ia juga menyoroti bahwa penyerapan oleh Bulog terganjal oleh keterbatasan fasilitas pengeringan.
“Ibarat air satu ember, tapi wadahnya cuma botol air mineral. Gabah menumpuk karena kapasitas dryer kecil,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala DPKP Bondowoso, Hendri Widotono, menyampaikan bahwa panen masih akan terus berlangsung hingga Juni.
“Panen awal luasan 5.800 hektar, disusul 7 ribu, lalu 9 ribu hektar. Puncaknya di bulan Juni nanti,” ucap Hendri.
Laporan data panen tersebut, lanjut Hendri, diperoleh melalui pemantauan satelit dan drone yang dilaporkan langsung oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Dengan besarnya potensi panen dan kendala infrastruktur yang ada, para pihak berharap koordinasi lintas sektor bisa segera menghasilkan solusi konkret.
Tujuannya bukan hanya memenuhi target serapan beras nasional, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani lokal sebagai penyangga utama ketahanan pangan daerah.(awi/ted)






