Jember (beritajatim.com) – Resesi dan krisis ekonomi tengah mengancam Indonesia. Tetapi, bagi pelaku bisnis budidaya tembakau dan turunannya, resesi bukan sesuatu yang ditakuti. Ada ancaman lain yang lebih bikin gentar.
Salah satu pengusaha cerutu dan tembakau bawah naungan Jember, Agusta Jaka Purwana mengatakan, hingga saat ini angka ekspor cerutu produksi perusahaan Bin Cigar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang dipimpinnya masih relatif stabil. Selama ini, Bin Cigar mengekspor cerutu ke Turki, Taiwan, China, Jepang, Australia, Estonia, Rumania, Yunani, Ceko.
“Resesi tidak terlalu berpengaruh terhadap komoditas tembakau dan turunannya, termasuk cerutu. Ini bukan komoditas utama seperti minyak kelapa sawit, cokelat, kopi. Kami berjalan seperti biasa dan insya Allah ke depan untuk produk tembakau dan turunannya tak terpengaruh resesi dan malah meningkat untuk wilayah Eropa Timur,” kata Agusta.
Selain itu, Bin Cigar juga menggenjot penjualan di dalam negeri, terutama di hotel-hotel internasional. “Peluang pasar kami juga semakin besar,” kata Agusta.
Agusta merasa diuntungkan dengan bisnis pariwisata domestik yang sudah mulai bergerak. “Ketika ada resesi pun, sektor pariwisata masih stabil. Jadi pangsa pasar kami digenjot di hotel berjaringan, seperti jaringan Aston, Swis-Bell Hotel. Hampir 80 persen jaringan hotel sudah kami masuki,” katanya.
Alih-alih resesi, pebisnis tembakau seperti Agusta lebih cemas menghadapi ancaman regulasi yang semakin membatasi ruang gerak tembakau dan rokok, seperti FCTC (Framework Convention on Tobacco Control).
“FCTC dan regulasi pembatasan orang merokok di sejumlah negara bikin menghambat laju penjualan tembakau dan cerutu,” kata Agusta. FCTC adalah perjanjian internasional yang dirancang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membentuk aturan global atas pengendalian tembakau.
Bupati Jember Hendy Siswanto masih memberikan perhatian terhadap komoditas tembakau, sebagaimana terlihat dalam sidang paripurna pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jember 2023 dalam dua pekan ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”jember”]
“Menjelang musim tanam tembakau telah dilakukan pendataan rencana pembelian dan pengusahaan tembakau di Kabupaten Jemberm sehingga diketahui kebutuhan dan rencana produksi yang akan dicapai,” kata Hendy.
“Rencana pembelian dan pengusahaan ini telah disosialisasikan kepada para petani pada tahun berjalan setiap tahunnya. Selanjutnya dibuat sasaran rencana areal tanam pada tembakau. Na oogst tanam awal seluas 3.800 hektare, Na oogst tradisional 1.000 hektare, Voor oogst kasturi 6.260 haktare, dan Voor oogst rajang 6.300 hektare,” kata Hendy.
Pemkab jember juga telah mengalokasikan 20 persen anggaran peningkatan kualitas bahan baku tembakau dengan menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dalam bentuk bantuan pupuk untuk petani tembakau sebesar Rp4,13 miliar.
“Pemetaan lahan dan komoditas pertanian (secara umum) sudah dan sedang kami lakukan. Saat ini kita sudah memiliki data spasial (peta digital) yang berkaitan dengan luasan dan komoditas tanaman per musim tanam. Terkait dengan over produksi dan harga pasar, sistem pasar kita sangat tergantung dengan pasukan produksi komoditas pertanian dari wilayah selain Jember,” kata Hendy. [wir/beq]






