Surabaya (beritajatim.com) – Kasus kontroversial tentang Jessica-Mirna dan Kopi Sianida kembali mencuat dan menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Temuan-temuan yang menimbulkan kejanggalan dalam kasus ini telah mendorong banyak pihak untuk bersuara, mengusulkan kembali penyelidikan kasus ini.
Film dokumenter berjudul “Ice Cold,” yang baru-baru ini tayang di Netflix, membuka lembaran baru dalam perdebatan seputar kasus Kopi Sianida.
Dalam sebuah talkshow yang dipandu oleh Karni Ilyas, Edi Darmawan Salihin, ayah dari Mirna Salihin yang menjadi korban dalam kasus ini, mengungkapkan pendapatnya tentang film tersebut. Dia mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap film ini dan berpendapat bahwa film tersebut tampaknya hanya menguntungkan sebagian pihak.
Baca Juga: Tawaran Pemkab Bojonegoro Bagi Warga Terdampak Bendungan Karangnongko Masih Buntu
“Warga Indonesia jangan terkecoh oleh Netflix,” tegas Edi, seperti yang dikutip pada Minggu (8/10/2023).
Edi menyatakan bahwa dirinya merasa tertipu oleh film dokumenter ini dan menduga bahwa film ini hanya bertujuan untuk keuntungan sekelompok orang.
“Jadi gini, netflix itu, saya ketipu sama dia. Jadi netflix itu yang punya namanya jessica Wong,” lanjut Edi.
Pernyataan ini pun menimbulkan pertanyaan baru dari warganet. Benarkah Jessica Wong adalah pemilik dari Netflix?
Baca Juga: Warga Respons Positif Ada Posko Kowarteg Ganjar di Surabaya
Pendiri dan Sejarah Netflix
Faktanya mencatat bahwa Netflix didirikan oleh dua orang yang berpengalaman dalam bidang teknologi dan bisnis, yaitu Reed Hastings dan Marc Randolph, pada tanggal 29 Agustus 1997, di Scotts Valley, California.
Reed Hastings adalah seorang ilmuwan komputer dan ahli matematika yang saat ini memiliki kekayaan bersih sekitar USD 3,6 miliar atau setara dengan Rp 53,6 triliun (berdasarkan kurs Rp 14.897 per USD).
Sementara itu, Marc Randolph adalah seorang direktur pemasaran yang sebelumnya bekerja di perusahaan milik Reed Hastings bernama Pure Atria. Setelah usaha yang tak mudah, Netflix kemudian berkembang menjadi platform streaming skala internasional, diluncurkan di Kanada pada tahun 2011.
Baca Juga: Diterpa Angin Kencang, Rumah di Karanganyar Ngawi Roboh
Pada tahun 2021, layanan streaming ini telah mencapai lebih dari 190 negara, dengan pengecualian untuk beberapa negara seperti Tiongkok, Suriah, Korea Utara, dan Republik Krimea. Informasi dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Netflix memiliki kantor cabang di beberapa negara, termasuk Singapura.
Kantor cabang Netflix di Singapura terletak di 9 Straits View, Marina One West Tower #14-07/12, Singapura 018937. Dalam struktur organisasi Netflix Singapura, tidak ditemukan nama Jessica Wong sebagaimana yang disebutkan oleh Edi Darmawan Salihin.
Penanggung jawab untuk kawasan APAC di Netflix Singapura adalah Tony Zameczkowski, yang telah menjabat sejak tahun 2016 hingga saat ini. Selain itu, ada juga Zizi Ezlina dan Debra Richard yang menjabat dalam posisi direksi.
Baca Juga: Tukang Becak di Jombang Tewas Tertimpa Bangunan Runtuh
Zizi Ezlina menangani koordinasi kebijakan publik, sementara Debra Richards bertanggung jawab sebagai direktur dan kebijakan produksi.
Dari sini kemudian timbul pertanyaan baru yang muncul, yakni siapa sebenarnya Jessica Wong yang disebutkan oleh Edi Darmawan Salihin? (mnd/ian)






