Surabaya (beritajatim.com) —Budaya Arek, yang tumbuh di kawasan Surabaya dan sekitarnya, mencerminkan identitas sosial masyarakat perkotaan Jawa Timur yang egaliter dan menjunjung tinggi semangat gotong royong. Dalam kajian antropologi, dua nilai ini tidak hanya menjadi ciri perilaku, tetapi juga cerminan struktur sosial yang terbentuk dari sejarah dan pengalaman kolektif masyarakatnya.
Watak egaliter masyarakat Arek tampak dalam cara mereka berinteraksi secara langsung, terbuka, dan setara. Relasi sosial yang cenderung horizontal, seperti penggunaan sapaan “rek” kepada siapa saja, mencerminkan perlawanan terhadap struktur hierarkis yang kaku. Sifat ini berakar pada latar belakang masyarakat urban pekerja dan pelajar yang terbiasa bersikap mandiri dan vokal terhadap otoritas.
“Budaya Arek bukan sekadar nostalgia, tapi modal sosial yang harus terus dirawat,” tegas Jil Kalaran, penggagas Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS), dalam wawancara eksklusif menjelang acara Surabaya Hari Ini.
FPKS dan Visi Revitalisasi Budaya Arek
Sebagai inisiator FPKS, Kalaran menjelaskan bahwa forum ini lahir dari keprihatinan akan memudarnya nilai-nilai Arek di tengah modernisasi. “Kami ingin menciptakan ruang di mana seni menjadi medium untuk merefleksikan identitas Surabaya yang egaliter dan gotong royong,” ujarnya.
Menurut Jil Kalaran, ada tiga tantangan utama:
1. Generasi muda yang semakin terpapar budaya global
2. Individualisme perkotaan yang mengikis solidaritas
3. Minimnya platform untuk ekspresi seni berbasis kearifan lokal

“Surabaya Hari Ini”: Pentas Seni Lintas Generasi
Acara yang akan digelar pada 13 Mei 2025 pukul 19.00 di Teras DKS ini dirancang sebagai:
– Cermin kondisi aktual Surabaya melalui seni
– Jembatan antargenerasi dengan melibatkan seniman muda dan senior
– Panggung egaliter di mana semua unsur seni diperlakukan setara
“Kami sengaja memadukan puisi Widodo Basuki yang legendaris dengan monolog Meimura yang segar. Ini simbol bahwa budaya Arek itu hidup dan terus berevolusi,” papar Kalaran.
Strategi Jangka Panjang FPKS
Jil Kalaran mengungkapkan roadmap FPKS:
– Festival budaya triwulanan
– Workshop seni untuk pelajar
– Kolaborasi dengan komunitas lain di Jawa Timur
“Target kami dalam setahun adalah membuat 10 karya seni yang secara khusus mengangkat nilai-nilai Arek,” tambahnya.
Mengapa Ini Penting?
Jil Kalaran menekankan bahwa di era digital:
“Gotong royong dan egalitarianisme justru menjadi senjata melawan polarisasi sosial. Surabaya bisa menjadi contoh bagaimana kearifan lokal beradaptasi dengan zaman.”
Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Bagi yang ingin berkontribusi, FPKS membuka pendaftaran relawan melalui Instagram @fpks_surabaya. [but]






