Magetan, (beritajatim.com) – Siapa yang tak kenal dengan film Star Wars? Film fiksi ilmiah yang pertama kali populer tahun 1970-an itu banyak sekali penggemar dari berbagai generasi.
Seperti Dimas Mukti Wibowo, 30, pria asal Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan melihat celah tersebut untuk menjadikan bisnis. Bahkan, produknya laris manis di Singapura dan Malaysia.
Berawal saat masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang tahun 2016, dengan modal Rp 750 ribu penyisihan sebagian uang jajan ia mencoba membuat replika helm berbahan fiberglass dari salah satu tokoh Star Wars.
‘’Bermodalkan peralatan sederhana serta bahan yang ada dipasaran saya mulai menyalurkan kreatifitas seni, saat itu saya garap di kos – kosan. Saya memanfaatkan media sosial untuk pemasaran,’’ kata Dimas, saat ditemui di workshopnya, Senin (6/7/2021).
Setelah lulus kuliah dia menekuni usaha propsmaker atau pembuat replika properti karakter Star Wars di rumahnya. Memanfaatkan sudut ruangan rumahnya ia mulai memaksimalkan kualitas produksinya.
‘’Helm yang kami produksi saat ini memiliki 15 model karakter ikonik dari ratusan model yang ada di film Star Wars,’’ terangnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm-magetan”]
Dimas merupakan satu-satunya propsmaker Star Wars di Indonesia. Diusianya yang sangat muda helm buatannya mampu menembus pasar internasional Malaysia dan Singapura. Untuk pasar dalam negeri, karyanya digemari artis – artis ibukota.
‘’Aqi Singgih (Vokalis Alexa), Arian (Vokalis Seringai), Saykoji, Omesh dan Derby Romero. Terakhir belum ada yang pesan lagi dari kalangan artis ibukota,’’ katanya.
Saat ini, Dimas memiliki dua karyawan untuk memenuhi kebutuhan konsumen 15 hingga 20 helm dalam sebulan. Helm buatannya dibanderol dari harga Rp 1,3 juta hingga Rp 1,8 juta tergantung dari karakter yang diinginkan.
‘’Untuk yang sekaligus badan saya banderol Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Penghasilan bersih mencapai Rp 10 juta hingga Rp 15 juta dalam sebulan,’’ katanya.
Kendala dalam pengerjaan tersebut pada proses pewarnaan. Kawasan Plaosan terkenal cukup dingin sehingga proses pengeringan saat pewarnaan kurang maksimal. Selain itu, dia menyayangkan ongkos kirim keluar negeri begitu mahal, sampai 80 persen dari harga jual.
‘’Padahal banyak peminat dari Amerika dan Eropa. Karena ongkir mahal, banyak peminat dari luar negeri gak jadi beli,’’ jelasnya.
Menyiasati kendala, kedepan dia berencana untuk bekerjasama dengan toko-toko mainan di beberapa kota besar guna mengenalkan produknya secara offline selain pemasaran secara online Dimas juga berencana membuat cafe edukasi yang bertemakan Stars Wars.
‘’Kini mengembangkan membuat karakter yang 1:1 ini alatnya sudah selesai, tinggal proses pengerjaannya,’’ pungkasnya. (asg/ted)






