Jadi begini, Bruno Moreira sebaiknya meminta ekstra bonus ke manajemen Persebaya Surabaya. Bukan apa-apa. Saya yakin, sesuai kontrak, ia digaji sebagai pemain sepak bola yang bermain bersama sepuluh orang lainnya. Di situ tidak tertulis keharusan ia bekerja keras sendirian dan menggendong satu tim seperti yang dilakukan Lionel Messi atau Maradona terhadap tim nasional Argentina selama bertahun-tahun.
Namun yang terjadi dalam pertandingan pekan ke-29 Liga 1 2023-24 melawan Madura United, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (13/3/2024), Bruno bekerja keras (sendirian) untuk memastikan Persebaya tak dipermalukan di hadapan 5.583 orang penonton.
Pertandingan berakhir 0-0. Alhamdulillah. Hasil maksimal, terutama setelah Persebaya mengalami tekanan hebat selama babak pertama. Madura United seperti tak memberikan ruang kepada anak-anak asuhan Paul Munster untuk bergerak ke depan.
Bruno adalah sosok yang tampil paling cemerlang. Dia seperti seorang hansip yang melakukan ronda ke mana-mana. Tak hanya berinisiatif saat menggerebek pertahanan Madura, tapi juga bertahan dengan sangat militan dan penuh tanggung jawab.
Bruno menempatkan diri sebagai pemain yang paling menarik perhatian untuk dilanggar. ia tak bisa dihentikan hanya dengan satu pemain, tapi setidaknya dengan dua pemain. Saya heran, sampai saat ini dia tak pernah mengalami cedera parah yang menyebabkannya absen lama.
Selama 29 pekan Liga 1, Bruno hanya absen dua kali saat melawan Rans FC di Surabaya yang berakhir dengan skor 2-2 dan saat bertandang ke Persikabo Bogor yang menghadirkan skor 1-1. Itu pun ia absen dalam pertandingan melawan Persikabo karena akumulasi kartu, bukan karena cedera.
Dari 27 penampilannya bersama Persebaya musim ini, Bruno tampil penuh 90 menit dalam 26 pertandingan. Hanya sekali dia tampil 45 menit saat bertandang ke PSIS Semarang, dengan masuk pada babak kedua menggantikan Kasim Botan.
Menit 89, Bruno hanya membutuhkan waktu kurang lebih 12 detik untuk berlari kencang sendirian dari area Persebaya, masuk ke dalam kotak penalti Madura sebelum memberikan operan untuk Toni Firmansyah. Dia seperti tak tahu kapan harus berhenti berlari, bahkan saat kaki-kaki teman-teman satu timnya tak lagi mampu bergegas.
Kontribusi Bruno juga tidak main-main. Ia terlibat dalam 13 gol Persebaya, 10 gol di antaranya dicetaknya sendiri dan tiga kali berperan memberikan assist. Jumlah gol ini melebihi golnya bersama Persebaya pada musim 2021-2022. Saat itu ia mencatatkan tujuh gol dan tiga assist dalam 29 pertandingan.
Namun yang terpenting, dalam musim ini, setiap kali Bruno mencetak gol, maka Persebaya jarang kalah. Hanya sekali Persebaya mengalami kekalahan ketika Bruno mencetak dua gol, yakni saat melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo.
Dari sini kita memahami, bagaimana manajemen Persebaya harus memastikan Bruno tidak ke mana-mana. Dan itu bisa dimulai dengan memenuhi permintaan Bruno (jika dia mau) untuk memperoleh bonus ekstra. Dari Bruno, kita memahami bagaimana seharusnya konsep keadilan filsuf liberal Robert Nozick dijalankan.
Sebagaimana pebasket Amerika tersohor Wilt Chamberlain yang dipakai Nozick sebagai contoh, Bruno adalah sosok yang paling ditunggu penonton. Menurut Nozick, sebagian pendapatan dari tiket yang dibeli penonton sangat sah untuk diberikan kepada Chamberlain.
Prinsipnya adalah kerelaan penonton. Bukankah orang-orang tersebut berhak menggunakan uang mereka sesuka mereka? Desakan kepada manajemen Persebaya untuk mempertahankan pemain tertentu yang dianggap spesial sudah cukup menunjukkan bagaimana Bonek menginginkan uang tiket digunakan.
Kritik keras kepada manajemen Persebaya saat gagal mempertahankan pemain yang bagus menunjukkan, bahwa di antara sebelas pemain di atas lapangan sekali pun, selalu ada individu menonjol yang layak dihargai lebih.
Ketika manajemen gagal mempertahankan pemain seperti Bruno (dan ini bukan sekali dua kali terjadi), maka potensi kemenangan pun berkurang. Susahnya Persebaya meraih kemenangan berbanding lurus dengan jumlah penonton yang membeli tiket pertandingan. Di pengujung kompetisi, kegagalan manajemen mempertahankan pemain berkualitas seperti Bruno tak hanya akan membuat prestasi jeblok, tapi juga membuat kinerja finansial klub merosot.
Singkat kata: pertahankan Bruno dengan semua cara legal yang memungkinkan. Bahkan jika kemudian dia minta bonus esktra atau Persebaya menanggung pajak yang harus dibayarnya. “Pajak penghasilan dari pekerjaan sama dengan kerja paksa,” kata Nozick.
Jangan buat Bruno seperti menjalani kerja rodi di atas lapangan. Percayalah, dia akan menjadi bagian dari skema revolusi Paul Munster musim depan. [wir]






