Jombang (beritajatim.com) – Sedikitnya 25 wartawan yang tergabung dalam PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kabupaten Jombang mengikuti pelatihan bercocok tanam dengan metode hidroponik, Sabtu (1/10/2022). Pertanian metode itu sangat cocok untuk lahan yang terbatas atau sempit.
Pelatihan tersebut digelar di BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Jarakkulon, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Sejumlah isntruktur di kantor tersebut yang memberikan materi terkait metode tanam hidroponik itu. Selain itu, wartawan juga diajak melihat sejumlah tanaman yang dibudidayakan di lahan milik BPP.
Dalam kesempatan itu, wartawan diberikan teori tentang penanaman sayur. Mulai media yang digunakan hingga tanaman yang cocok dikembangkan dengan metode hidroponik. Tahap selanjutnya, wartawan juga melakukan praktik dari teori yang sudah diberikan. Acara berlangsung dinamis. Peserta mengikuti dengan seksama hingga selesainya acara.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wartawan-jombang”]
Penyuluh pertanian BPP Jarakkulon Nuning Istiyowati menjelaskan, bercocok tanam dengan metode hidroponik sangatlah mudah dan hemat lahan. Seperti yang diketahui, hidroponik merupakan teknik budidaya yang menggunakan arang sekam atau media tanam lainnya.
Metode ini memanfaatkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk cair, yang diberikan ke tanaman dengan cara disiramkan atau melalui irigasi tetes. “Budidaya sayuran bisa dilakukan dengan cara hidroponik. Sayuran yang umum ditanam dengan cara hidroponik adalah selada, kangkung, bayam, seledri, tomat, dan sejenisnya,” kata Nuning.
Menurut Nining, bertanam dengan sistem hidroponik merupakan cara yang ramah lingkungan. Karena budidayanya tidak membutuhkan pestisida secara berlebihan. Tentu saja, metode ini juga menjadi solusi untuk berkebun di lahan yang sempit atau terbatas (urban farming).

“Sistem hidroponik dapat menggunakan berbagai media tanaman. Salah satu yang sering digunakan adalah rockwool. Rockwool digunakan sebagai media tanam hidroponik karena memiliki kemampuan menahan air dan udara dalam jumlah besar. Ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan akar dan penyerapan nutrisi. Jadi teman-teman jurnalis tak perlu khawatir, bercocok tanam hidroponik ini sangat mudah,” terang perempuan berjilbab ini.
Sekretaris PWI Jombang Moh. Syafi’i mengatakan, pelatihan bercocok tanam dengan sistem hidroponik sengaja ia lakukan untuk bekal para jurnalis yang berminat mengembangkan wirausaha di rumah. Mengingat hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas dan cukup simpel.
Oleh karenanya, metode hidroponik bisa dikembangkan wartawan di sela kesibukannya mencari berita. “Jadi tidak menggganggu kerja utama wartawan. Selain itu, bercocok tanam dengan metode hidroponik juga bisa menjadi bisnis sampingan yang menguntungkan,” ujar Syafi’i. [suf]






