Lamongan (beritajatim.com) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan geladi, guna menguji sistem peringatan dini bencana banjir. Acara itu bertempat di Desa Bulutigo, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Kamis (9/12/2021).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut yakni Muspika Kecamatan Laren dan Maduran, BPBD Lamongan, BBWS Bengawan Solo, PJT, UPT Dinas Kesehatan Laren dan Maduran, Tim Siaga Bencana Desa Bulutigo dan Desa Parengan, serta masyarakat sekitar.
Analis Kebijakan Ahli Muda, Direktorat Peringatan Dini, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Tommy Harianto, S.Si mengatakan, geladi digelar untuk menguji efektivitas alat peringatan dini, Early Warning System (EWS), yang dipasang di Balai Desa Bulutigo Laren dan Parengan Maduran
“Fungsi alat peringatan dini berbasis masyarakat ini untuk memberi informasi peringatan, tugas, dan peran Tim Siaga Bencana pada saat bencana terjadi,” ungkap Tommy.
Selain itu, menurut Tommy, alat peringatan dini ini juga bertujuan untuk mengintegrasikan dan menghasilkan kemampuan dari kapasitas individu maupun kelompok masyarakat terhadap risiko dan ancaman bencana.
“Kemampuan tersebut mencakup kemampuan memahami informasi, membantu menyebarluaskan kepada anggota masyarakat yang berpotensi terdampak, dan mampu merespon melalui tindakan cepat yang benar dan tepat. Sehingga kemungkinan terjadinya korban jiwa maupun kerugian harta benda bisa diminimalisir,” terangnya.
Lebih lanjut, Tommy menuturkan, Direktorat Peringatan Dini BNPB tak hanya melakukan kegiatan penguatan kapasitas di level masyarakat, namun juga membentuk Fasilitator Daerah (Fasda), di BPBD Kabupaten yang menjadi sasaran.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-lamongan”]
“Fasda dibentuk agar BPBD kabupaten memiliki SDM yang mumpuni. Selain itu, Fasda juga membantu Fasilitator Nasional dari Direktorat Peringatan Dini BNPB dalam berbagi pengetahuan saat dilaksanakannya kegiatan peningkatan kapasitas tim siaga dan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Fasda Kabupaten Lamongan, Maghfur menuturkan, Kegiatan ini telah berjalan sejak 19 November 2021 sampai 9 Desember 2021. “Sistem peringatan dini ini bisa dipencet di tombol langsung melalui Pusdalops BPBD Kabupaten Lamongan saat terjadi risiko atau ketinggian air dirasa banjir oleh Kepala Desa atau warga setempat,” ujar Maghfur.
Maghfur mengaku, selama pelaksanaan geladi dan perawatan EWS ini, masyarakat setempat yang menjadi peserta sangat berantusias, partisipatif, dan produktif. “Yang terpenting bagi kami adalah mereka bisa memahami apa itu EWS, lalu mereka bisa merespon dengan melakukan tindakan yang cepat saat EWS berbunyi di Bulutigo ini,” imbuhnya.
Antusias peserta saat geladi itu, kata Maghfur, dibuktikan dengan keseriusan peserta saat digelarnya geladi dan proses evakuasi kelompok rentan warga. Bahkan, seolah sangat terlihat seperti kejadian sebenarnya.
Kendati secara keseluruhan kegiatan ini berjalan lancar, namun menurut Maghfur, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dari pelaksanaan evakuasinya, salah satunya masalah teknis sirine yang dirasa kurang jauh jangkauannya.
“Warga pada radius kurang lebih 3 Km dari lokasi sirine tidak mendengar dengan jelas peringatan yang diberikan. Sedangkan dari informasi warga, peringatan terdengar di radius 2 sampai 3 Km,” tandasnya.
Sebagai informasi, rangkaian kegiatan sistim peringatan dini ini terdiri dari survei awal kebutuhan alat peringatan dini, audiensi ke pemerintah daerah terkait pemasangan alat dan penguatan kapasitas masyarakat, sosialisasi di desa setempat.
Kemudian pembentukan dan peningkatan kapasitas tim siaga desa, pembuatan prosedur tetap desa, penyusunan peta evakuasi desa, dan geladi yang merupakan acara puncak dari kegiatan ini.
Selain dilaksanakan di Lamongan, sistem peringatan dini berbasis masyarakat ini juga digelar di 6 daerah lainnya di sepanjang kawasan sungai Bengawan Sol, di antaranya Wonogiri, Magetan, Ngawi, Madiun, Bojonegoro dan Tuban.
Pemilihan lokasi berdasarkan analisis kajian risiko bencana dan hasil koordinasi daerah. Kegiatan ini merupakan program prioritas Nasional Tahun 2021, sebagai upaya membangun kesiapsiagaan di tengah semakin meningkatnya ancaman bencana hidrometereologi bagi masyarakat.
Apalagi, BMKG memprediksi, sebagian wilayah Indonesia di tahun 2021 hingga Februari 2022 akan mengalami fenomena alam La Nina yang berdampak pada meningkatnya curah hujan bulanan yang berkisar antara 20 sampai 70 persen di atas normal. [riq/suf]







