Sumenep (beritajatim.com) – BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Sumenep mengajukan anggaran sebesar Rp 98 juta dari biaya tak terduga (BTT), untuk suplai air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan.
“Kami sudah menerima surat permohonan dari sejumlah kepala desa yang wilayahnya mengalami kekeringan. Mereka minta agar bisa segera dikirim air bersih,” kata Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Wahyu Kurniawan Pribadi, Selasa (25/7/2023).
Ia menjelaskan, pengiriman air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan, akan dimulai pekan ini. Pengiriman air bersih dilakukan menggunakan armada truk tangki milik BPBD, PDAM, dan Cipta Karya. “Satu tangki isi 5.000 liter akan kami suplai untuk 100 orang. Jadi tiap desa tidak sama jumlah air bersih yang dikirim, tergantung jumlah penduduk di wilayah tersebut,” ujarnya.
BACA JUGA:
Hindari Banjir Rob, BPBD Sumenep Minta Warga Mengungsi ke Tempat Aman
Ia mengungkapkan, tahun 2023, wilayah yang mengalami kekeringan diperkirakan akan meluas, mengingat musim kemarau tahun ini lebih panjang dibanding 2022. “Kalau tahun 2022 terjadi kemarau basah. Jadi kekeringan tidak terlalu meluas. Kebutuhan air bersih dicukupi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemkab Sumenep tidak sampai mengambil anggaran BTT,” terangnya.
Berdasarkan SK Bupati nomor: 188/189/KEP/435.013/2023, sebanyak 51 desa yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Sumenep, terancam mengalami kekeringan pada 2023. Dari 18 kecamatan tersebut, 10 diantaranya merupakan kecamatan daratan, dan 8 lainnya kecamatan Kepulauan. Status siaga darurat itu berlaku selama 183 hari, terhitung mulai 1 Juni – 31 November 2023.
Sepuluh kecamatan di wilayah daratan yang diprediksi mengalami kekeringan yaitu Kecamatan Pasongsongan 4 desa, Ambunten 2 desa, Talango 4 desa, dan Saronggi 2 desa. Kemudian di Kecamatan Rubaru 4 desa, Batuputih 10 desa, Ganding 1 desa, Bluto 1 desa, Pragaan 1 desa, dan Batang-Batang 2 desa.
BACA JUGA:
18 Kecamatan di Kabupaten Sumenep Terancam Kekeringan
Sedangkan untuk wilayah kepulauan yang diprediksi kekurangan air bersih ada 8 kecamatan, yaitu Kecamatan Giligenting 1 desa, Kecamatan Gayam 4 desa, Nonggunong 3 desa, dan Raas 1 desa. Selain itu Kecamatan Arjasa 4 desa, Kangayan 5 desa, Sapeken 1 desa, dan Masalembu 1 desa.
“Ada 51 desa yang terdampak kekeringan. 9 diantaranya kering kritis, 42 lainnya kering langka. Kalau kering kritis itu sama sekali tidak ada air. Kalau kering langka itu masih ada sumber air, tetapi lokasinya jauh dan tidak mencukupi kebutuhan. Ini yang kami dahulukan untuk suplai air bersih,” papar Wahyu. [tem/suf]






