Ponorogo (beritajatim.com) – Menjelang datangnya musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mulai meningkatkan kesiapsiagaan. Salah satu langkah antisipatif yang dilakukan adalah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap tiga early warning system (EWS) atau alat peringatan dini banjir yang tersebar di sejumlah titik rawan luapan sungai.
Tiga alat EWS tersebut berada di Sungai Tempuran, Gendol, dan Ngampel, kawasan yang selama ini dikenal kerap terdampak banjir saat intensitas hujan tinggi. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, memastikan seluruh perangkat masih berfungsi dengan baik.
“Hasil survei kita tiga-tiganya masih bisa (aktif, red) cuma ada indikasi baterainya mulai melemah. Kita upayakan segera ganti baterai akinya agar bisa bekerja secara maksimal sehingga bisa memberikan warning bagi wilayah sekitar ketika ada peningkatan elevasi air sungai,” katanya, Sabtu (25/10/2025).
Masun menjelaskan, ketiga alat tersebut tidak mengalami kerusakan fatal. Namun, penurunan daya baterai membuat sinyal dan sirine EWS tidak berbunyi maksimal, sehingga jangkauan peringatannya berkurang dari radius ideal.
“Harapannya kan sirine itu bisa berbunyi sampai maksimal 5 km sesuai aturan. Tapi kemarin itu nggak sampai 5 km karena baterainya agak lemah, maka akan segera kita ganti,” tegasnya.
Langkah perawatan rutin ini menjadi bagian penting dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor yang kerap melanda Ponorogo ketika curah hujan tinggi. Dengan kondisi alat yang prima, masyarakat di sekitar bantaran sungai diharapkan bisa lebih cepat mengetahui ancaman dan melakukan langkah evakuasi lebih awal.
BPBD Ponorogo juga mengimbau masyarakat di wilayah rawan agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem, menjaga kebersihan saluran air, serta segera melaporkan jika mendapati tanda-tanda peningkatan debit sungai.
“EWS ini hanya alat bantu, tapi kewaspadaan masyarakat tetap yang utama,” pungkas Masun. [end/beq]






