Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mencatat sejak Januari hingga 14 Maret 2025 sudah terjadi belasan desa di Kabupaten Bojonegoro mengalami longsor.
Tanah longsor itu terjadi pasca diterjang banjir luapan Sungai Bengawan Solo dan banjir bandang. “Kami akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, Sabtu (15/3/2025)
Berikut adalah beberapa lokasi longsor yang tercatat oleh BPBD Bojonegoro:
- Desa Kemiri, Kecamatan Malo: Longsor dengan panjang 30 meter, lebar 7 meter, dan tinggi 6 meter.
- Desa Kolong, Kecamatan Ngasem: Longsor dengan panjang 8 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 3 meter.
- Desa Mulyorejo, Kecamatan Tambakrejo: Longsor dengan panjang 18 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 15 meter.
- Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem: Longsor dengan panjang 20 meter, lebar 8 meter, dan tinggi 2 meter.
- Desa Sekar, Kecamatan Sekar: Longsor dengan panjang 20 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 15 meter.
- Desa Senganten, Kecamatan Gondang: Longsor dengan panjang 35 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 4 meter.
- Desa Ngunut, Kecamatan Dander: Longsor dengan panjang 29 meter dan tinggi 5 meter.
- Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno: Longsor dengan panjang 20 meter, lebar 10 meter, dan tinggi 7 meter.
- Desa Pajeng, Kecamatan Gondang: Longsor terjadi di Jalan Raya Provinsi.
- Desa Sumberagung, Kecamatan Ngraho: Longsor dengan panjang 5 meter dan tinggi 6 meter.
- Desa Klino, Kecamatan Sekar: Longsor dengan panjang 36 meter, tinggi 9 meter, dan lebar 5 meter.
- Desa Dengok, Kecamatan Padangan: Terdapat beberapa titik longsor, termasuk di RT 01 RW 01, RT 07 RW 02, dan RT 13 RW 02.
- Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari: Longsor terjadi di RT 15 RW 8 dan RT 16 RW 8.
Longsor terbaru di Desa Sarirejo Kecamatan Balen, pada Jumat (14/3/2025). Longsor ini merusak bagian dapur rumah warga. Tim BPBD Bojonegoro telah mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan lebih lanjut. [lus/beq]






