Kediri (beritajatim.com) – Gudang Garam, perusahaan rokok yang kini menjadi salah satu raksasa industri kretek nasional, lahir di Kediri pada 26 Juni 1958.
Perusahaan ini didirikan oleh Surya Wonowidjojo atau Tjoa Ing-Hwie, seorang perantau Tionghoa yang awalnya bekerja di pabrik rokok milik pamannya, Cap 93, sebelum memutuskan mendirikan usaha sendiri.
“Kisah Gudang Garam diinisiasi langsung oleh pendirinya Surya Wonowijoyo itu, yang namanya Tjoa Ing-Hwie,” kata Ketua DPC Kesatuan Buruh Kebangsaan Indonesia (KBKI) Kediri Raya Tukiran, pada Senin (8/9/2025).
Dengan modal tabungan dan tekad kuat, Surya mengajak 50 buruh linting untuk memulai produksi. Produk pertama berupa sigaret kretek klobot (SKL) dan sigaret kretek tangan (SKT) segera dipasarkan. Nama ‘Gudang Garam’ dipilih karena pabrik pertama berdiri di gudang bekas penyimpanan garam, sementara logonya dirancang oleh mantan pekerja Cap 93 bernama Sarman.
Popularitas Gudang Garam berkembang cepat di Jawa Timur. Surya bahkan menyewa gerbong kereta api khusus bagi ratusan buruh linting di pabrik cabang Gurah, Kediri. Strategi distribusi berbasis komunitas ini membuat Gudang Garam berkembang tanpa bergantung pada iklan besar.
“Pak Surya sangat dekat dengan para pekerjanya, bahkan ikut makan bersama. Loyalitas itulah yang menjadi fondasi kuat Gudang Garam hingga puluhan tahun kemudian,” imbuh Tukiran.
Masa Keemasan Gudang Garam : Jadi Produsen Kretek Raksasa di Era 1970-an
Memasuki 1970-an, Gudang Garam memasuki masa keemasan. Lonjakan permintaan kretek membuat perusahaan mampu menyerap lebih dari 40.000 buruh linting, mayoritas perempuan. Pada 1971, Gudang Garam resmi berbentuk perseroan terbatas (PT) dengan dukungan fasilitas penanaman modal dalam negeri (PMDN). Jaringan distribusi semi-agen membuat produk ini meluas ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, hingga Kalimantan.
Produk ikonik Gudang Garam Merah menjadi pemimpin pasar SKT selama bertahun-tahun. Namun pada 1980-an, perusahaan menghadapi tantangan besar dari kompetitor yang mulai memproduksi rokok mesin dengan filter.
“Saat itu Tjoe Ing-Hwie sudah pensiun. Terus omset rokok itu turun. Saingannya waktu itu bikin rokok filter. Kemudian Ing-Hwie aktif lagi di pabrik dan menginisiasi lahirnya Gudang Garam Surya. Itu kan namanya dia. itu tahun 1980-an,” terangnya.
Meski Gudang Garam Surya belum mampu mendominasi pasar filter, perusahaan kembali berinovasi dengan meluncurkan Gudang Garam Internasional yang lebih pendek dan ringan, menyasar pasar perkotaan yang saat itu dikuasai Djarum.
“Rokoknya lebih pendek, lebih kecil dan untuk menyerbu kota-kota besar. Saat itu kota-kota besar dikuasai oleh Djarum. Sampai hari ini Gudang Garam itu pabrik rokok terbesar. Kalau bisnis keseluruhan itu nomor satu Djarum. Tetapi kalau rokoknya, tetep Gudang Garam yang terbesar,” pungkasnya. [nm/ted]






