Malang (beritajatim.com) – Book Fair di Malang Creative Center (MCC) tak hanya menyajikan deretan buku-buku bacaan beragam genre. Pameran tersebut juga menampilkan panggung puisi dari penggemar sastra di Kota Malang.
Acara panggung puisi berlangsung pada Minggu (5/3/2023) malam. Terlihat para penggemar sastra di Kota Malang antusias membacakan puisi karya penyair nasional maupun karyanya sendiri.
Ketua DPC Ikatan Penerbit Buku (IKAPI) Kota Malang, Gedeon Seorja, menjelaskan pihaknya sangat mengapresiasi gelaran panggung sastra tersebut.
“Acara panggung sastra ini bentuk partisipasi Griya Buku Pelangi Sastra, salah satu pengisi acara kita. Kita mengapresiasi segala bentuk kegiatan yang korelasinya dengan literasi contohnya yakni baca puisi secara bergantian itu bentuk ekspresi temen-temen,” kata Gedeon.
Gedeon menuturkan, kegiatan ini menyediakan berbagai aneka buku, literasi kreatif dan peluang untuk usaha penerbitan. Book fair, sambung Gedeon sebagai langkah acara pra launching dari MCC.
Kegiatan Pra Grand Launching melalui MCC IKAPI Creative Book Fair Momen ini sebagai hasil kolaborasi Pemerintah Kota Malang, Komite Ekonomi Kreatif Kota Malang, MC, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Academic Association of Creative Economic (AACE).

“Tujuan utama acara ini untuk masyarakat agar lebih tahu terkait penerbit di Malang. Acara ini dimulai dari hari Kamis, 2 Maret berakhir Senin, 6 Maret 2023 dengan diisi 27 stan dari penerbit di Kota Malang, 1 toko buku dan 2 perpustakaan di Kota Malang,” sambung Gedeon.
Baca Juga: Universitas Ma Chung Malang Bekali Mahasiswa dengan AI
Selain pameran buku, kegiatan IKAPI DPC Malang dan MCC ini juga diisi dengan berbagai kegiatan lain. Mulai dari panggung puisi, diskusi buku, podcast, kelas pelatihan dan workshop menulis bagi masyarakat, dan lainnya yang berhubungan dengan subsektor penerbitan.
“Untuk yang kami utamakan di sini adalah pelaku subsektor penerbitan yang lokasinya di kota Malang. Jadi mereka bebas mau ngapain aja selamat waktunya ada,” pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan Griya Buku Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar, memandang panggung puisi untuk memberi ruang pada pecinta sastra. “Dari panggung ini kita berupaya memberi ruang sastra puisi untuk membacakan puisi,” ucapnya.
Menurut Denny puisi harus terus dirayakan. “Seperti kata Octavio Paz, puisi itu harus dirayakan salah satu perayaan itu adalah dibacakan dengarkan apresiasi pada malam ini. Sebenarnya panggungnya ini bebas nggak cuma puisi, boleh baca yang lain boleh nyanyi juga,” kata pria berambut gondrong tersebut. [dan/beq]






