Jakarta (beritajatim.com) – Langkah Danone Aqua menggandeng sejumlah ulama dari Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta untuk merespons isu boikot justru memantik kritik dari berbagai kalangan. Publik mempertanyakan motif di balik pendekatan ini karena dianggap mencampuradukkan urusan bisnis dengan otoritas keagamaan dalam situasi yang sarat kepentingan.
Dalam forum Bahtsul Masail NU Jakarta, yang digelar pada 30 April 2025, dirumuskan bahwa Danone Indonesia tidak memiliki keterkaitan dengan Israel. Kesimpulan tersebut disusun atas lima poin, antara lain tidak adanya aktivitas ekspor-impor langsung maupun tidak langsung dengan Israel, Aqua diproduksi oleh 11.000 pekerja lokal, serta peran aktif perusahaan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk Palestina.
Namun, strategi ini justru menuai kecaman dari aktivis dan kalangan internal Nahdlatul Ulama. Aktivis boikot, Aresdi Mahdi atau Habib Ama, menyindir langkah tersebut melalui akun Instagram miliknya. “Rugi amat kl gak minum akua apa, sampai harus dibela dgn cara-cara lucu begini. Kenapa gak kalian promosikan air mineral @santrisegar yg jelas punya keluarga besar NU,” tulisnya.
Kritik juga datang dari Sukron Jamal, kader muda NU dari Jaringan Muslim Madani. Ia menilai forum tersebut telah dimanfaatkan untuk kontra-opini atas pemberitaan yang menyebut Aqua dan Danone terafiliasi dengan Israel. “Seharusnya Bahtsul Masail menjadi forum NU untuk memecahkan masalah yang belum pernah dibahas sebelumnya dan objek dasar kajiannya semestinya adalah persoalan keumatan dan bukan mengakomodasi kepentingan segelintir orang atau kelompok,” tegas Sukron di Depok, Rabu (7/5/2025).
Sukron juga menilai informasi yang disampaikan perwakilan Danone Indonesia dalam forum tidak komprehensif. Ia menyinggung keterlibatan Danone Ventures, unit investasi grup tersebut, dalam pendanaan WILK, perusahaan susu sintesis asal Israel pada tahun 2023, serta hubungan bisnis induk perusahaan Danone S.A. dengan Strauss Group, perusahaan makanan dan minuman terbesar kedua di Israel.
“Faktanya, Danone sebagai perusahaan global memang memiliki hubungan dengan Israel dalam aktivitas ekonomi dan bisnisnya, dan itu sulit dibantah,” ujar Sukron. “Maka cukup beralasan kita melakukan boikot terhadap produk-produknya yang dipasarkan di negara kita sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan menentang penjajahan Israel,” tambahnya.
Pernyataan Sukron sejalan dengan cuitan BDS Indonesia di platform X, yang menegaskan bahwa Danone masih memiliki investasi di Israel dan mendukung perekonomian negara tersebut. Dalam aplikasi No Thanks, Aqua tercantum dalam daftar produk yang direkomendasikan untuk diboikot.
Di Indonesia, setidaknya terdapat dua daftar boikot yang beredar, masing-masing dikeluarkan oleh Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) dan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Keduanya mencantumkan Danone sebagai perusahaan global dan Aqua sebagai merek air kemasan yang menjadi target boikot. [beq]






