Surabaya (beritajatim.com) – Sesuatu hal yang dilakukan sekali tapi bisa berkelanjutan adalah berbohong. Tanpa kita sadari ternyata saat berbohong tentu saja membutuhkan kebohongan selanjutnya. Tapi, percayalah jika ternyata pernyataan bukan sekadar kata-kata biasa tetapi ada penjelasan dijelaskan dalam ilmu sains.
Faktanya, ketika berbohong dapat menimbulkan kecanduan bahkan kemungkinan bukan hanya satu atau dua kebohongan yang terlontar dari mulutnya tapi bisa lebih dari itu.
Tapi, sebenarnya apa penyebab dari orang berbohong jika diamati melalui ilmu psikologi. Bukan hanya itu, sebenarnya kita perlu mengerti penyebab kebohongan membuat candu.
Ketika dalam keadaan terpepet, ini menjadi momen yang dilakukan seseorang untuk berbohong supaya mendapatkan keuntungan atau menyelamatkan diri dari kondisi yang buruk. Bahkan, saat terpikir untuk berbohong, maka ada pikiran orang yang langsung terlintas dengan berbagai pertanyaan, seperti tujuan kebohongan dan dampak negatif dari tindakan tersebut. Meskipun sudah pasti ada banyak masalah atau keuntungan yang bisa saya didapatkan.
Hanya saja, pemikiran itu kadangkala menjadi pemicu seseorang berbohong. Walaupun memang benar, tentu ada banyak alasan yang diakui oleh sebagian besar orang beralasan berbohong karena tidak mau menyakiti orang
disayangi, supaya bisa mengendalikan situasi, atau hanya untuk mencari keuntungan sendiri.
Tapi apapun alasannya tentu saja hal yang dilakukan sebenarnya memang tidak seharusnya terjadi. Kita perlu mengerti jika apapun alasannya, kebenaran merupakan fakta yang paling baik untuk didengar. Selain itu, kita harus berhati-hati ketika sudah berbohong karena ada kemungkinan akan kecanduan untuk berbohong lagi.
Dalam sebuah penelitian dalam jurnal Nature Neuroscience membuktikan jika orang berbohong biasanya tidak terjadi hanya sekali. Bahkan dalam penelitian itu menyebutkan beberapa ahli melihat serta menganalisis otak ketika seseorang sedang berbohong. Dari penelitian ini mereka mengajak 80 relawan membuat beberapa skenario dan mengetes tingkat kebohongan masing-masing peserta.
Dari hasilnya adalah kita menemukan jika kebiasaan berbohong tergantung dengan respon otak seorang individu. Saat seseorang berbohong, bagian otak yang paling aktif dan bekerja adalah amigdala. Amigdala sendiri adalah area otak yang berperan penting untuk mengatur emosi, perilaku, dan motivasi seseorang. Ketika orang berbohong pertama kalinya, maka awalnya amigdala menolak perilaku yang dilakukan sehingga menimbulkan respon emosi.
Respon emosi yang dimunculkan adalah ini rasa takut saat bohong. Tapi tentu saja, tidak terjadi hal yang buruk ketika sudah bohong pasalnya amigdala menerima perilaku yang kemudian tidak lagi mengeluarkan respon emosi sehingga dapat mencegah berbohong untuk ketiga kalinya. [prd/esd]






