Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) di Desa Tambakrejo, Kabupaten Blitar.
Puluhan nelayan antusias mengikuti pelatihan untuk meningkatkan hasil tangkapan dan keselamatan melaut dengan memanfaatkan teknologi informasi cuaca terkini.
“Kami memiliki produk yang semakin lengkap dan detail. Nelayan bisa mengakses INAWIS BMKG, untuk mengetahui potensi gelombang tinggi, cuaca buruk, bahkan dapat mengetahui dimana lokasi adanya ikan di laut,” jelas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, M.Si.
Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar, Drs. Izul Marom, M.Sc, menyambut baik inisiatif BMKG ini. “BMKG sangat dibutuhkan dalam semua sektor. Di negara maju seperti Kanada, info cuaca itu sangat penting. Bahkan setiap penduduk terus aktif memantau cuaca khususnya di saat kondisi cuaca yang berpotensi ekstrem,” ungkapnya.
Izul juga menyoroti dampak cuaca terhadap hasil panen dan perikanan di Blitar. “Tahun 2023 hasil panen menurun, karena musim hujan mundur. Ada penurunan sekitar 60 ribu ton dari hasil panen tahun sebelumnya,” ujarnya.
Anggota Komisi V DPR-RI, KH. An’im Falachudin Mahrus, berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.
“Kami ingin sekali pemerintah Kab. Blitar juga bisa membina para nelayan. Selain menjadi penangkap ikan, namun sekaligus menjadi pedagang. Jangan dikuasai tengkulak ekonominya,” jelasnya.
“Semoga dengan adanya SLCN nelayan dapat lebih mandiri dan sejahtera, memanfaatkan teknologi untuk melaut dengan aman dan hasil tangkapan yang melimpah,” pungkas dia. [asg/ian]






