Bojonegoro (beritajatim.com) – Sebuah bangunan berestetika kolonial Belanda kini menghidupkan kembali nuansa era 1920-an di jantung Kota Ledre. Bistro Tjap Njonja, yang resmi dibuka dengan grand opening pada Kamis (20/11/2025) malam, tidak hanya menawarkan kuliner lezat, tetapi juga berkomitmen menjadi wadah kreatif bagi generasi muda Bojonegoro.
Di balik fasad bangunan heritage yang artistik, tersimpan visi yang jauh melampaui konsep bistro biasa. Vedhasari Puspita, sang pemilik yang akrab disapa Vedha, menegaskan bahwa Tjap Njonja lahir sebagai ruang inkubasi bagi talenta-talenta kreatif lokal.
“Tujuan utama kami adalah mengumpulkan dan mewadahi anak-anak muda untuk berkreasi, terutama di bidang seni. Menu roti dan patisserie kami yang spesial adalah tujuan kedua,” tegas Vedha, yang juga berprofesi sebagai seorang notaris.
Untuk mewujudkan misinya, Tjap Njonja akan secara rutin menggelar event kreatif bulanan. Langkah ini langsung dimulai dengan lomba fotografi yang digelar selama sebulan penuh tanpa biaya pendaftaran.
“Setiap bulan, kami akan mengadakan kompetisi serupa dengan bidang yang berganti-ganti, seperti teater, seni rupa, atau musik. Ini adalah komitmen kami untuk memberikan panggung tetap bagi ekosistem kreatif Bojonegoro,” paparnya.
Kecintaan Vedha pada sejarah dan barang antik tercermin kuat dalam setiap sudut Tjap Njonja. Konsep Hindia Belanda era 1920-an dihadirkan secara detail, mulai dari desain interior hingga furnitur yang dipajang. Ia juga menghadirkan kedekatan emosional di era itu yang dekat dengannya. Sehingga terasa hidup dalam setiap koleksi yang terpasang.
“Kami sengaja mengusung konsep heritage yang selaras dengan lingkungan sekitar, di mana banyak berdiri bangunan peninggalan Belanda. Beberapa koleksi seperti gramofon, telefon, dan kamera yang dipajang adalah barang asli dari era tersebut, bukan replika,” ungkap Vedha.
Kehadiran Tjap Njonja disambut antusias oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, melihat potensi besar bistro ini dalam mendukung percepatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Konsep heritage yang diusung Tjap Njonja selaras dengan upaya Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark.
“Lokasinya yang berdekatan dengan Museum Geopark Bojonegora menciptakan klaster wisata budaya dan sejarah yang sangat menarik. Ini bukan sekadar tempat makan, tapi sebuah destinasi yang memperkaya khasanah wisata kita,” jelas Nurul Azizah saat menghadiri grand opening Bistro Tjap Njonja.
Untuk diketahui, grand opening bistro ini diramaikan oleh aksi spektakuler dua pilot paramotor juara dunia, Ali Sukoco dan Ifa dari Batu. Mereka membentangkan bendera raksasa berukuran 2×6 meter sambil terbang mengitari langit Bojonegoro, sebelum akhirnya mendarat di lapangan Desa Sambiroto. Aksi tersebut menjadi simbol semangat baru yang dibawa Tjap Njonja untuk kota Bojonegoro. [lus/aje]






