Magetan (beritajatim.com) – Tangan Sumiran tak lelah untuk menyapu daun-daun bambu yang berguguran di area Petirtaan Dewi Sri Simbatan, Desa Simbatan, Nguntoronadi, Magetan.
Pria 52 tahun itu dengan telaten membersihkan pekarangan struktur cagar budaya itu setiap hari. Menjadi juru pelihara membuatnya merasa handarbeni sebagai ornag yang wajib merawat petirtaan yang juga dikenal dengan Sendang Beji itu.
Petirtaan yang dipugar selama tujuh tahun sejak 2007 itu juga dijadikan venue untuk melakukan tradisi bersih desa yang cukup unik. Dalam rangakaian acara bersih desa ada satu acara berupa tarian leel atau tarian ikan yang ditangkap di kolam itu saat dikuras pada pagi hari menjelang acara utama.
‘’Setiap Bulan Suro tepat Jumat Pahing kami pasti adakan rangakaian acara bersih desa,’’ katanya.
Dimulai dengan acara selamatan atau doa bersama pad amalam jumat. Saat Jumat Pagi ada penyembelihan hewan. Dilanjutkan dengan pengurasan air kolam, pemberishan patung dewi sri dan situs lain yang ada di kolam. Hingga penangkapan ikan.
‘’Setelah Shalat Jumat, baru ada tayuban, dengan memberikan iringan gamelan pad alele yang menari,’’ katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”wisata-magetan”]
Menari yang dimaksud adalah lele yang menggeliat saat ada musik yang ditabuh. Dan itu akan jadi hiburan tersendiri bagi warga setempat. Bahkan, yang menonton juga berasal dari luar daerah.
Namun, acara digelar kecil-kecilan di tahun 2020. Karena ada pandemi. Untuk tahun ini, kemungkinan acara tak terlalu diramaikan seperti tahun 2019.
‘’Mengingat situasi masih belum kondusif, mungkin tidak terlalu diramaikan, hanya dihadiri tokoh masyarakat saja dan para sesepuh,’’ katanya. [fig/but]







