Pacitan (beritajatim.com) – Satu dari 93 pasien diare di Desa Sumberrejo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, dilaporkan meninggal dunia. Pasien tersebut memiliki penyakit penyerta (komorbid) asma.
“Ada satu yang meninggal, rujukannya ke rumah sakit karena diare,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan, dr. Hendra Purwaka, Kamis (5/1/2022).
Kasus diare yang melanda Desa Sumberrejo sudah berlangsung sejak 18 Desember 2022. Penderitanya terus bertambah setiap hari, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Hingga kini, setidaknya ada 93 warga yang terjangkit diare. Mereka mengalami gejala mual dan sering buang air besar.
Warga dengan tingkat keparahan ringan hanya dirawat di rumah, Sedangkan pasien bergejala sedang dirawat di puskesmas.
Hendra mengatakan, pasien yang meninggal memiliki rekam medis penyakit asma dan rutin berobat ke puskesmas. Terdapat kemungkinan diare memperberat asmanya karena kekurangan cairan.
“Pasien diare yang meninggal itu mempunyai komorbid yakni penyakit asma dan rutin berobat ke puskesmas,” katanya.
Untuk diketahui sebelumnya, sudah ada 93 orang di Kabupaten Pacitan yang terserang penyakit diare. Banyaknya orang yang menderita penyakit diare itu, pertama kali terjadi pada tanggal 18 Desember 2022 lalu.
Orang yang terserang penyakit diare ini, terdeteksi di Dusun Karangturi Desa Sumberrejo Kecamatan Sudimoro. Ada warga yang terjangkit dan obat jalan dengan dirawat di rumah, ada juga yang dirawat di puskesmas terdekat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pacitan pun langsung melakukan tindakan untuk menekan kasus diare yang hingga kini menyerang warga di pesisir selatan Pulau Jawa tersebut.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kesehatan”]
“Alhamdulillah, kini sudah menurun. Pertama kali terjadi pada tanggal 18 Desember dan puncaknya terjadi di tanggal 23 Desember lalu,” kata Hendra.
Banyaknya warga yang mengidap penyakit diare ini, diduga karena pengolahan air bersih yang selama ink kurang optimal. Sebab, air sumur yang bersangkutan diduga terkontaminasi dengan bakteri Escherichia coli (E.coli). Hal itu didapat dari pemeriksaan yang dilakukan petugas Dinkes Pacitan yang memeriksa air sumur milik warga yang terkena diare.
“Airnya kurang sehat. Kita periksa beberapa sampel di rumah-rumah warga yang terkena diare, hasilnya mengandung E coli. Meski ada 1, 2 atau 3. Meski sedikit harusnya ya 0 dari tercemari bakteri E.coli,” kata Hendra.
Berbagai tindakan sudah dilakukan oleh Dinkes Pacitan untuk menekan angka kasus diare di kabupaten berjuluk 1001 goa tersebut. Yakni dengan melakukan pengobatan kepada warga yang terjangkit. Pencegahan dengan melakukan edukasi terhadap masyarakat. Selain itu juga melakukan gerakan kaporitisasi di kepala keluarga (KK) yang ada di Desa Sumberrejo. Terutama di rumah warga yang diduga terkontaminasi bakteri E.coli.
“Pengolahan air harus optimal. Untuk pencegahan kita lakukan edukasi warga dan dilakukan kaporitisasi,” pungkasnya. [end/beq]






