Bangkalan (beritajatim.com) – Nasib malang dialami seorang siswi berusia 12 tahun di Kabupaten Bangkalan. Maksud hati hendak berangkat menuntut ilmu ke sekolah madrasah, ia justru menjadi korban dugaan aksi pelecehan oleh seorang pria tak dikenal dengan modus menanyakan alamat.
Peristiwa traumatis tersebut terjadi di kawasan Desa Martajasah, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Rabu (28/10/2026) sore.
Kepala Desa Martajasah, Rahmat, membenarkan adanya insiden yang menimpa warganya tersebut. Ia menceritakan, kejadian bermula saat korban berjalan kaki seorang diri menuju bangunan madrasah. Di tengah jalan, terduga pelaku yang mengendarai sepeda motor menghentikan langkah korban berpura-pura menanyakan lokasi alamat tertentu.
Meski korban sudah menjawab tidak tahu dan berupaya melanjutkan perjalanan, pria misterius tersebut justru kembali menghadang langkah korban.
Pada cegatan kedua, pelaku nekat mengeluarkan ponsel pintar miliknya dan memutar tayangan video tak senonoh di hadapan korban. Tak berhenti di situ, pelaku juga diduga sempat memegang kaki korban hingga membuat bocah tersebut ketakutan setengah mati sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri dan berlari kencang menuju sekolah.
“Kami belum mengetahui secara pasti motifnya, apakah pelaku murni berniat melakukan pelecehan atau ada potensi tindak kriminalitas lain,” ujar Kades Martajasah, Rahmat, Jumat (30/10/2026).
Pemdes Sosialisasi Kewaspadaan ke Sekolah-Sekolah
Merespons insiden keresahan warga tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Martajasah bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat bergerak cepat menyisir sejumlah lembaga pendidikan di wilayah sekitar.
Petugas memberikan edukasi dan imbauan langsung kepada para siswa agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap orang asing yang bertindak mencurigakan.
“Kami langsung melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di sekitar lokasi kejadian untuk memberikan arahan kepada para siswa agar selalu waspada dan tidak mudah percaya pada orang yang tidak dikenal,” tuturnya.
Selain itu, Rahmat juga meminta para orang tua dan guru untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak, terutama pada jam krusial berangkat serta pulang sekolah.
“Kami mengingatkan agar anak-anak tidak ragu untuk segera berlari dan melapor kepada guru, orang tua, atau warga sekitar jika mengalami tindakan mencurigakan atau merasa terancam,” pungkasnya. [sar/but]






