Pacitan (beritajatim.com) – Baru satu setengah bulan berjalan sejak resmi kegiatan belajar mengajar Sekolah Rakyat (SRMA) 23 Pacitan, pada 14 Juli 2025 lalu, tercatat 12 peserta didiknya memilih mengundurkan diri.
Plt Kepala Dinas Sosial Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, membenarkan adanya gelombang pengunduran diri tersebut. Menurutnya, faktor utama yang membuat siswa mundur adalah ketidaknyamanan dengan sistem pembelajaran serta aturan ketat di sekolah.
“Di Sekolah Rakyat siswa tidak diperkenankan menggunakan handphone dan harus tinggal di asrama selama 24 jam. Mungkin bagi sebagian anak terasa terkekang, sehingga mereka lebih memilih kembali bersekolah di sekolah umum,” jelas Khemal ditulis Rabu (10/9/2025).
Meski demikian, ia memastikan kekosongan kuota itu segera terisi. Sebanyak 12 kursi yang ditinggalkan akan digantikan oleh peserta didik baru dari gelombang kedua yang kini masih dalam proses Rekrutmen.
“Saat ini sudah kembali terisi, dari pendaftar sekolah SR gelombang 2,” Jelas Pria yang juga menjabat sebagai Asisten 1 Setda Pacitan ini.
Sekolah Rakyat Pacitan sendiri hadir dengan konsep berbeda dari sekolah formal pada umumnya. Sistemnya lebih menekankan pada pembelajaran berbasis karakter, kemandirian, dan disiplin, sehingga menuntut adaptasi lebih dari para siswanya. [tri/aje]

as a preferred source on Google




