Surabaya (beritajatim.com) – Penularan hantavirus kini menjadi ancaman bagi masyarakat usai belasan spesies tikus di Indonesia teridentifikasi menjadi pembawa bibit penyakit mematikan itu.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Risma Ikawaty, Ph.D., mengingatkan bahwa penyebaran virus ini sangat bergantung pada jenis hewan pengerat yang menghuni lingkungan sekitar.
“Faktor yang memengaruhi tingkat penyebarannya adalah spesies tikus pembawa virus atau reservoir,” terang dr. Ika, Selasa (12/5/2026).
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan terdapat 15 spesies tikus yang membawa berbagai varian virus sehingga mampu berpindah ke tubuh manusia melalui udara. “Hal ini patut menjadi perhatian kita bersama, karena faktor risiko menjadi semakin besar,” kata Ika.
Laju urbanisasi serta perubahan iklim ikut memicu lonjakan populasi tikus sehingga memperlebar peluang paparan kotoran atau air liur yang mengering lalu terhirup warga.
“Intinya, semakin banyak tikus dan semakin seringnya kontak dengan manusia, berarti semakin besar peluang penyebaran virus,” tambah Wakil Dekan I FK Ubaya itu.
Ika menyebut, langkah pencegahan dapat dimulai dengan menjaga sanitasi rumah serta mengenali tanda awal seperti nyeri otot dan gangguan ginjal pasca berinteraksi di area berisiko. “Apabila muncul gejala tersebut setelah adanya riwayat kontak dengan tikus, segera cari pertolongan medis ke dokter atau fasilitas kesehatan,” pungkasnya. [ipl/kun]






